21 Januari 2013

Tahun-tahun sebelumnya, saya belum pernah membuat nastar sendiri. Utamanya, nyali saya ciut dengan kewajiban membuat selainya. Berhubung tidak doyan nanas, saya jarang memegang buah nanas, baik itu yang masih utuh maupun yang sudah dikupas. Jadi, awalnya saya bahkan tidak yakin bisa mengupas nanas. Tapi dengan motto "emak gue aja bisa, mosok gue enggak", saya maju pantang mundur. Resep diambil dari Resepnugraha. Disana ada resep selai dan kuenya sekalian.
Selai yang saya hasilkan rasanya manis. Ya iya, nanas yang dipakai nanas sunpride (yang diklaim manis), masih ditambah gula pasir, kayu manis, dan cengkeh pula. Jadi manis dan wangi aroma cengkeh dan kayu manis. Enaklah. Untuk saya yang tidak doyan nanas, saya bisa makan selainya pakai roti. Saya pakai 1 buah nanas yang saya lupa berapa ukuran gramnya. Selainya bisa dipakai untuk 4 toples nastar @450gr dan masih bersisa. Oya, ada cerita  lucu dari zaman dahulu. Dari berkali-kali membuat selai sendiri, sekali ibu saya pernah menghasilkan selai berwarna hijau. Hijau seperti rawa di serial Swamp Thing gitu. Sungguh ajaib. Tadinya kami menuduh nanasnya mentah nih, jadinya hijau. Tapi nanasnya berasa manis kok. Lalu kami menuduh resep dan teknik memasaknya yang salah. Tapi madame membuat dengan nanas yang dibeli di penjual yang sama, dan resep yang sama pula, hasilnya tidak hijau. Dengan semena-mena kami memutuskan terdakwa nya adalah suatu wajan besar yang baru sekali itu ibu saya gunakan untuk membuat nanas. Wajan ini dibuat menggoreng atau masak lainnya sih tidak hijau.
Oke, kembali ke nastar masa kini. Bahannya tidak menggunakan margarin (kecuali untuk olesan di loyang), full mentega. Saya sudah menduga akan empuk sekali ini hasilnya. Dan benar. Hancur di mulut. Dua 'klien' saya memberi reaksi berbeda masing-masingnya. Suami bilang ini empuk, enak. Adik bilang ini terlalu empuk. Baiklah, kita simpulkan saja bahwa selera orang beda-beda.
Tantangan bagi saya dalam membuat nastar adalah selai dan ukuran. Jadi saya ingin nastar saya ukurannya masih imut lucu (ini hasil doktrin ibu saya juga sih, yang bilang kue kering itu bagusan yang ukurannya kecil imut gitu, bertolak belakang dengan aliran tante-tante saya yang lebih suka kue ukuran besar karena lebih cepat proses mencetaknya). Untuk hasil jadi versi ini, menurut saya ukurannya sudah pas, cuma saya masih ingin selainya lebih banyak lagi. PR banget ini mikirin gimana caranya supaya ukurannya masih tetap tapi selainya diperbanyak.

Tips kecil-kecilan dari pembuat kue amatir (saya, maksudnya): lebih baik 'cuil-cuil' selainya terlebih dahulu sebelum memulai membuat adonan nastar, kalau saya, saya siapkan dulu selai yang sudah disiapkan 'per porsi' di loyang. Kemarin saya buat 100 pc untuk satu adonan, dan ternyata sisa sekita 10 buah gitu. Untuk ukuran, menurut saya ukuran saya sudah seragam meski tidak pakai timbangan. Jadi ada yang kasih tips kalau mau nastarnya seragam ukurannya, potong-potong adonan dan timbang. Menurut saya tips ini gak perlu. Pakai 'feeling' aja, setelah membulatkan nastar 10 pc biasanya sudah tau kok pasnya seberapa. Lagipula, kalau tujuannya buat dimakan sendiri (atau dalam kasus saya, dikasih ke orang untuk kemudian dimakan sendiri), gak perlu seragam-seragam amat juga kok ukurannya. Homemade toh biasanya lebih mahal nilainya *menghibur diri*.

Ya ampun, sampai lupa pasang selai yang sudah disiapkan *tepok jidat*
Ih itu apa yang bentuknya bintang di samping?

Itu kue putri salju saya. Di postingan lainnya ya.

Okeh. Sampai jumpa di postingan kue berikutnya ya.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -