04 Februari 2013

di bookfair.

Jangan beli buku di bookfair.

Pernyataan macam apa ini, bookfair kan waktunya untuk beli buku yang banyak, diskon di mana-mana gitu loh. Ya kalau mau menyelamatkan dompet dari godaan belanja yang terkutuk membabi buta, dan tumpukan buku yang tak kunjung terbaca, ini tips yang bisa saya berikan.

Saya besar sebagai anak yang suka baca. Zaman kecil, ibu bapak saya gak langganan majalah anak-anak, jadinya saya bacain aja koran yang ada di rumah. Kadang ibu saya nerima hibahan majalah wanita dari tetangga saya yang langganan majalah. Itu juga saya ikut baca. Hihihi anak kecil sudah baca cerpennya Femina. Masuk masa abg agak tergoda untuk beli majalah sebangsa Gadis atau Aneka, tapi kok dipikir sayang amat ya uang tabungan (waktu kecil, teman-teman bapak saya yang sering main ke rumah rajin ngasih uang ke saya dan adik saya, soal ini di postingan lainnya ya) kok kepotong buat beli majalah mingguan. Dan karena mingguan terbitnya, maka pengeluaran (yang disayang-sayang itu) juga berulang secara mingguan kan. Jadilah saya jarang sekali beli majalah. Nah tetangga saya yang suka menghibahkan majalah ke ibu saya, anaknya suka baca juga. Umurnya lebih tua sekitar 5 tahun dari saya. Dia juga suka menghibahkan bacaan-bacaannya pada saya. Saya kenal cerita Forrest Gump ya dari metode hibah ini.

Dompet baru agak lowong untuk beli buku sendiri (tanpa rasa sayang) ketika saya mulai bekerja. Satu demi satu novel dibeli. Itu juga pake metode berdiri lama di toko buku, mikir beli apa enggak ya, bagus apa enggak ya, terus begitu akhirnya dibeli dan habis dibaca, kadang ngerasa sayang "yah... kok uda selesai sih? Harus ngeluarin uang nih buat baca lagi". Ya ampun, medit sejak dini gini ya rasanya saya hahahaha.

Dengan rasa medit yang terpatri, jadwal bookfair jadi penting untuk diingat. Karena di bookfair ini buku-buku akan didiskon minimal 15%, kadang kalau sudah bukan terbitan baru, novel-novel ini bisa dijual seharga Rp 15.000,- atau Rp 10.000,-. Kalau sudah begini, saya gak lagi lama berdiri di depan stand buku untuk mikir beli enggak ya, bagus enggak ya, langsung hajar bleh aja beli. "Lumayan 50.000 dapat 5 buku, biasanya kan cuma dapat 1 atau 2", lagi-lagi ini jiwa medit menguasai. Biasanya sampai rumah, buku-buku ini akan saya tumpuk dan pandangi, sambil merasa kagum sendiri, dengan uang seminimal mungkin mendapat jumlah semaksimal mungkin hahahaha.

Masalahnya, buku-buku yang dibeli tanpa pikir lama ini punya kecenderungan untuk tidak terbaca.

Kadang karena ternyata isinya kurang menarik.

Kadang karena tumpukan buku yang banyak itu membuat hasrat baca terintimidasi. Ciut duluan pas mikir, banyak amat ya yang belum gue baca.

Kadang karena ada banyak buku yang bisa dibaca, begitu suatu buku mulai dibaca dan terlihat agak kurang menarik, saya lebih mudah menyerah dan tidak melanjutkan. Toh bisa baca buku lainnya, kan masih banyak, begitu pikir saya.

Jadi, kalau buat saya, diskon (dalam konteks ini diskon harga buku di bookfair) malah membuat lebih boros. Boros uang untuk beli buku yang ternyata tidak menarik/tidak terbaca. Boros ruang untuk menyimpan buku-buku yang banyak ini.

Sekarang, saya sudah jarang ke bookfair. Paling kesana kalau janjian atau nganterin teman. Plus kalau pergi ke toko buku, jarang sekali beli buku diskon. Bukan karena belagu. Tapi ya karena itu tadi, yang seringan terjadi pada saya, belinya hanya karena diskon, bukan karena isinya (sepertinya) menarik. Menahan godaan untuk tidak datang ke bookfair gampang, menahan godaan untuk tidak mampir ke bagian "Diskon" di toko buku biasa yang susah. Jadi saya bikin mental note "boleh lihat, tapi gak boleh beli" untuk buku-buku yang ada di bagian ini.

Gimana, ada yang merasakan hal yang sama dengan saya?

3 Responses so far.

  1. keblug says:

    Buku maah ke rumah buku atau togamas, kan selalu diskon. klo bookfair, ntah yaa, murah sih, tapi jarang yang cucok.
    sekarang udah berbulan2 gak ke toko buku dengan sengaja, kalo ga sengaja sih terakhir bulan desember dan beli 'ghostwriter' Akhir akhir ini, semua buku kalah kinclong sama song joong ki apalagi magic bullet. buwehehehe
    :D

  2. Eike baru saja beres menamatkan buku-buku diskonnya bukabuku. Tuuu kan.. ga perlu ke bookfair. Onlinepun mereka bisa diskon gila-gilaan.

    Kalau gw Ma, berjanji ga akan beli buku baru kalau masih ada buku yang belum dibaca. Sukses sih. Tapi kalau lagi butuh hiburan banget dan tumpukan buku itu ga memancing selera gw memperbolehkan diri membeli komik. Selesainya kan cepat.

    Hahaha..

    eh biar kelar baca tumpukan buku-buku itu, pakai speed reading. skip-in detail-detail tak penting.... hahaha. Yang penting tau jalan ceritanya aja.

  3. @Keblug. Togamas diskonnya gak fantastis, demikian pula koleksinya. Jadi gampang dilawan godaan itu.

    @Ira. Iihh banyak dong bukunya. Review mana review.... Kalo komik gue untungnya (atau sayangnya?) gak suka.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -