06 Februari 2013

Teman kerja saya, yang duduk persis di depan saya, punya tiga orang anak, dua diantaranya kembar. Menyelingi sesi kerja dengan wajah sok serius, kami sering bertukar cerita. Saya cerita kalau suka baca blog emak-emak (maksudnya wanita yang sudah punya anak, sebagian besar usia anaknya di bawah 10 tahun), dan teman kerja saya ini cerita tentang anak-anaknya. Beberapa ceritanya lucu, ya lucu-lucu khas anak kecil gitu. Teman saya ini pernah berkata, "gue bingung, ngedengerin cerita lu tentang blog, kapan gue sempet nulis ini di blog ya? Kerjaan aja gak kelar-kelar gini". Nah, untuk membantu teman saya ini, saya aja yang menuliskannya di blog saya. Lumayan, bahan postingan hihihi.

Si kembar anak teman saya ini sekarang kelas 2 SD di sebuah SD negeri di wilayah Jakarta Selatan. Jakarta Selatan ya, bukan Jakarta coret. Bocah kembar ini keduanya perempuan, mari kita sebut saja namanya Amy dan Cecy.

Siang tadi, si kembar menyatakan bahwa mereka gak mau mengerjakan tugas piket (membersihkan ruangan sebelum kelas dimulai) pada hari tugas mereka masing-masing. Amy kebagian hari Rabu, Cecy hari Jumat. Si kembar menolak jadwal piket mereka karena tidak jatuh pada hari yang sama dengan Ifa, teman sekelas mereka yang kebagian jadwal piket Rabu.

Mama si kembar (teman saya) coba menawarkan, "kalian ajak tukeran aja teman kamu yang dapat jadwal Kamis, minta pindah ke Rabu dan Jumat, jadi kalian kan bisa piket bareng ama Ifa". Si kembar menolak dengan alasan, "orang Ifa kok yang mau barengan ama kita".

Si Mama bertanya ke saya, gimana ya caranya menyederhanakan usulan"kalo Ifa yang mau bareng kalian, ya si Ifa dong yang kudu sibuk nuker jadwal piket" kepada dua bocah kelas 2 SD ini. Ini jadi persoalan nomor 1.

Ketika si kembar menolak usulan tukar jadwal dari si Mama, si Mama bilang, "tapi kalau Bu guru negur karena ruangan kelas di hari Rabu dan Jumat kotor, kamu tanggung jawab ya", si kembar menjawab santai, "Bu guru sih gak ikut-ikutan jadwal piket Ma".

Beberapa menit kemudian, si kembar mengerjakan soal di LKS nya. Isi soalnya, "Anto tidak mau mengerjakan tugas piket sekolah. Perbuatan Anto....". Tau gak apa isian si kembar? Si kembar mengisinya dengan tercela. Hahahaha, ini saya yang dengar cerita sedang cekikikan. Si Mama menggoda dong, "masak sih tercela? Kan si Anto maunya bareng ama Ifa". Hihihi... ini teman saya yang sedang cekikikan.

Si Mama bertanya ke saya, "jadi anak gue punya double standard gitu? Atau mereka pikir kehidupan yang tertulis di buku soal dan kehidupan nyata itu, hal yang berbeda?". Ini jadi persoalan nomor 2.

Para emak-emak yang sudah pernah mengalami kejadian (mirip) di atas, bisa bantu temen saya ga? What should she do/say?

4 Responses so far.

  1. keblug says:

    LKS itu kan teori bukan praktek.

    *komen yg ga membantu* :D

  2. keblug says:

    LKS itu kan teori bukan praktek.

    *komen yg ga membantu* :D

  3. kalo ke anak-anak, mewujudkan "walk the talk" itu emang gampang-gampang susah ya.

    dalam hal ngisi LKS, psikologi anak-anak kan cuma paham dengan pembahasaan yang konkrit dan gak abu-abu. kalo gak "Terpuji", ya "Tercela', kalo gak "Baik" ya "Buruk", dll. maka wajar anak-anak kalo diajukan soal model PPKn kaya gitu gampang ngejawab yang benernya.

    nah, biar si anak ngelakuin apa yang dia tulis, atau emaknya sarankan, ada baiknya lewat contoh yang konkret langsung. misal si emak ngasih contoh kalo bersih-bersih itu baik, dan kalo gak bersih-bersih itu gak baik (jadi kotor, jorok, dll). dengan ngeliat langsung, semoga anak-anaknya jadi sadar bahwa kalo di sekolah dia gak bantu piket, kelas akan kotor, dan si anak gak suka itu (karena udah dicontohin sebelumnya).

    just my thought, maap kalo penjelasannya belibet. hehe

  4. @Keblug. Sungguh-sungguh tidak membantu :p

    @Al Kautsar. Hm.. jadi emaknya yang nanti menilai jawaban si anak benar atau salah gitu?

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -