09 Februari 2013

Disclaimer: Ini draft postingan entah dari kapan, saking lamanya sampai lupa tanggal aslinya. Dibuang sayang. Mari kita lengkapi saja dan diterbitkan jadi postingan baru.

---


Tadi malam nonton film emak ingin naik haji.

Kebetulan aja, gak dicocok-cocokin, tapi toh jadi ingat topik haji ini. Naik haji menjadi cita-cita sebagian besar orang tua yang saya kenal. Orang muda, kok saya belum pernah denger ada orang seumuran saya yang bercita-cita naik haji. Banyak cerita menunjukkan bahwa sebagai orang tua, sebagian besar dari mereka melaksanakan ibadah ini ketika semua kebutuhan anak-anak atau tanggungannya sudah terpenuhi. Mari saya bagi sedikit cerita mengenai cita-cita orang tua saya untuk naik haji. Particularly, bapak saya. Almarhum bapak saya.

Bapak saya adalah seorang ABRI. Ia pensiun pada tahun 1990, ketika saya masih kelas 3 SD. Seharusnya, ia langsung mengurus administrasi yang diperlukan agar pada bulan berikutnya ia bisa mendapatkan pensiun bulanannya. Kan sudah tidak dapat gaji lagi. Tapi ini tidak dilakukan. Jadilah ia mencari penghasilan serabutan. Toh saya dan adik saya masih bisa sekolah. Meski banyak orang gak habis pikir kenapa bapak saya terlalu 'malas' untuk mengurus penghasilannya sendiri. Hak nya sendiri.

Belakangan, barulah ia bercerita, bahwa ini adalah cara yang diambilnya untuk memaksa dirinya menabung. Ahay ternyata si bapak gak bisa nabung. Beda bener ama anaknya yang rajin menabung ini *ditimpuk buku tabungan*. Jadi karena 'gak punya' pendapatan, gue kudu cari uang buat kasih makan anak istri, gitu kali prinsip bapak saya waktu itu. Well, gak tau juga ini beneran mau nabung apa emang malas ngurus administrasi yang keterusan aja.

Bapak bercita-cita 'naik haji' dari tabungan ini.

Di tahun ke 8, ada pemberitahuan bahwa nilai maksimal pensiun yang bisa dibayarkan adalah 5 tahun. Lebih dari itu, selisihnya hangus. Ini membuat bapak 'terpaksa' mengurus administrasinya. Waktu itu nilai yang berhasil dikumpulkannya sekitar 15 juta rupiah. Ini sekitar awal tahun. Tahun lalu biaya naik haji 7 juta rupiah satu orang. Bisa untuk dua orang nih, tinggal nyari uang buat yang ditinggalin di rumah, pikir bapak saya.

Kemudian krismon datang. Dolar naik menggila.

ONH naik gak tanggung-tanggung jadi sekitar 20 juta (kalau tidak salah). Buat satu orang aja kurang, apalagi berdua. Ibu saya bilang ke bapak, kurang dikit aja itu, daftar aja dulu, sisanya nanti dikumpulin lagi. Bapak saya ogah. Gak lucuk jadi pak Haji kalau istrinya bukan bu Haji. Ealah...

Disitu saya membenci krismon.

Saya tidak sekolah/kuliah ke luar negeri, sehingga dolar naik tidak punya pengaruh pada uang saku saya. Tapi krismon ini mengubur cita-cita yang disimpan bapak saya selama 8 tahun.

Naik haji setelah pensiun jadi hal saya lihat lumrah ditemui di sekitar. Mertua saya juga pergi haji ketika mereka sudah pensiun, anak-anaknya sudah selesai kuliah dan bekerja. Jadi lumrah juga sih kalau bapak saya menunggu 8 tahun setelah pensiun untuk bisa naik haji. Tapi cerita lumrah yang saya bilang di atas, endingnya mereka berhasil naik haji. Orang tua saya enggak.

Delapan tahun bapak saya nabung dengan cara ekstrim, memotong 100% penghasilannya, dan kalah dengan krismon. Hasilnya bahkan tidak cukup untuk membiayai ONH satu orang. Saya bekerja selama 6 tahun dan berhasil menabung, mengumpulkan uang yang cukup untuk membiayari ONH dua orang. Ada faktor waiting list yang sungguh membuat mengelus dada (antara senang dengan antusiasme muslim Indonesia untuk naik haji dan kok udah susah-susah ngumpulin uang musti susah-susah nunggu lagi).

---

Postingan ini saya buat sebagai reminder untuk diri sendiri, bahwa saya bercita-cita naik haji. Semoga fisik dan mental saya siap. Semoga hati pendamping saya (ini bisa suami, bisa adik) dibukakan untuk bersedia menemani. .

Komennya ditutup ya.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -