22 Maret 2013

Saya punya Om (adik ibu) yang usianya hanya terpaut 10 tahun dengan saya. Suatu hari di tahun 1990, Kakek-Nenek saya (tinggal di Jawa Timur) datang ke rumah kami di Jakarta mengantarkan si Om dan seorang temannya (mari kita sebut Om-Juga) untuk ujian masuk di kampus-yang-waktu-itu-terkenal-karena-gratis-dan-lulusannya-langsung-penempatan-kerja. Lokasi kampus ini kebetulan tidak jauh dari rumah saya. Cuma dua kali naik angkot, durasi totalnya tidak sampai 30 menit.

Singkat kata, si Om dan Om-Juga ikut ujian masuk kampus. Ternyata Om-Juga yang diterima, Om saya malah gak diterima. Jadilah Om saya pulang kampung, kuliah di kota Apel, sementara si Om-Juga kuliah di sana. Saya lupa ia akhirnya ngekost atau tinggal bersama salah seorang saudaranya.

Loncat sekitar 4 tahun setelahnya. Jadi ini tahun 1994 ya. Atau sekitar itulah.

Di suatu siang yang biasa-biasa aja, si Om-Juga ini datang ke rumah kami. Bawa Dunkin Donut selusin. Bok, waktu itu makan Dunkin Donut tuh bergengsi banget. Rasanya keren banget gitu ngeliat Om-Juga sudah lulus kuliah, sudah kerja, dan sudah bisa bawain Dunkin Donut. Saya ingat pada masa itu kalau lagi dapat giliran 'atletik' ke Senayan dari sekolah, pulangnya saya dan teman-teman turun di Terminal Blok M dan beli donat-mirip-dunkin-donut di penjual kue di Blom M Mall itu. Itu, donat yang gak bolong tengahnya, yang ada isi selai strawberry nya *nelen ludah, mendadak pengen donat*.

Jadilah, buat saya yang masih SMP waktu itu, tolok ukur kemandirian finansial *uhuk, bahasanya* adalah ketika sudah bisa datang bawa Dunkin Donut ke rumah orang. Apaan itu rekening berapa juta, apaan itu dana darurat, apaan itu reksadana, anak SMP mana ngerti.

Loncat ke kisaran masa-masa kuliah.

Hampir mirip dengan abege pada umumnya, saya suka 'menghias' dinding dengan tempelan-tempelan. Tidak punya artis idola, saya memilih menempel gambar-gambar (ehm) inspiratif di dinding. Salah satunya adalah gambar logo Dunkin Donut. Beberapa orang yang melihat sempat nanya, "ngapain lo pasang gambar donat?".

Ada deh, jawab saya (sok) misterius.

Loncat ke tahun 2005, pekerjaan pertama saya yang dengan belagunya saya tinggalkan hanya setelah SATU BULAN saja hahaha memberikan gaji pertama dan terakhir pada akhir bulan Juni. Saya ingat waktu itu bilang:

Waktunya Dunkin Donut!

Saya lepas tempelan Dunkin Donut dari dinding. Di baliknya ada tulisan tangan saya:

Bawain donat ke Tante Meri, Tante Siti, dan Bapak Penjaga Loket Pengambilan Pensiun di Kantor Pos masing-masing 1 lusin.

Siang itu dengan sumringah saya beli empat lusin donat. Saya bawa ke Kantor Pos, karena itu lokasi yang paling dekat. Ada apa dengan bapak ini? Setelah ibu saya meninggal, saya masih berhak mendapatkan pensiun dari bapak saya (dengan pertanggungan dua orang anak, saya dan adik) hingga kami berusia 21 tahun ATAU lulus kuliah. Jadi selama beberapa tahun saya jadi pengambil pensiun termuda di kantor pos itu. Buat yang tidak familiar dengan konsep pengambilan pensiun saya jelaskan sedikit ya. Jadi para purnawirawan (pensiunan PNS atau ABRI) kan berhak mendapatkan uang pensiun per bulan. Uangnya umumnya diambil di Kantor Pos mulai tanggal 4 (hingga 20 kalau tidak salah) setiap bulannya. Bisa ditransfer ke bank juga sih, tapi para bapak-bapak dan ibu-ibu ini banyak yang menjadikan kunjungan sebulan sekali ke kantor pos sebagai kesempatan silaturahmi plus nostalgia. Jika yang purnawirawan adalah suami, maka sepanjang hidupnya sang suami bisa ambil pensiun bulanan. Ketika suami meninggal, sang istri berhak meneruskan mengambil uang pensiun itu juga sepanjang hidupnya (nilainya tentu berkurang). Jika istri juga meninggal (seperti dalam kasus saya), maka anak-anaknya berhak meneruskan mengambil pensiun itu hingga usianya 21 tahun atau lulus kuliah. Itu, yang bikin si bapak penjaga loket agak hafal dengan saya karena melihat foto saya di halaman depan buku, plus muka saya yang masih muda belia. Sungguh cerita pengantar yang panjang. Padahal pas saya datang ke sana, si bapak sudah tidak bertugas di sana. Ia dipindah ke Kantor Pos Fatmwati. Saya susul ke sana dong, dan memberikan selusin donat dengan sumringah. Saya gak yakin si bapak masih mengingat saya. Tapi gak apa.

Dua lusin donat berikutnya sesuai rencana saya berikan ke Tante Meri dan Tante Siti. "Abis gajian", ujar saya sambil nyengir sebelum mereka sempat bertanya.

Sayapun menyantap donat-dunkin-donut-betulan hari itu.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -