11 Maret 2013

Dilatarbelakangi oleh kerjaan yang ngambang dan kantor yang sepi, sore ini jadi salah satu sesi youtube saya. Pada keadaan normal, saya kurang suka buka youtube. Koneksi lambat, gak sabaran nunggu buffering, jadi beberapa alasannnya. Karena kalimat pertama postingan ini, sore ini youtube bisa ditonton tanpa buffering yang terlalu lama.

Tontonan sore ini adalah video ini.

Mas Christof Putzel yang ganteng membawakan film dokumenter mengenai industri rokok yang diindikasikan kini menyasar Indonesia sebagai pangsa pasar terbesarnya. Kalau di Amerika (khususnya New York yang lebih sering disebut di video ini) industri rokok mulai dibatasi (salah satunya dengan menaikkan pajaknya, sehingga harga jual rokok naik hingga dua kali lipat), negara kita tampaknya masih membebaskan peredaran rokok. Jualan rokok bisa di mana aja. Masang iklan rokok juga bisa di mana aja. Beli rokok, bisa siapa aja. Harganya murah pula. Mas Christof juga mendatangi Aldi, si bocah perokok (yang kini sudah tidak merokok lagi) di rumahnya.

Saya sih masih ga ngerti kenapa dan bagaimana rokok ini bisa diciptakan, lalu dipasarkan, dan lalu ada yang beli. Jelas-jelas gak ada manfaatnya, yang ada efek samping yang membahayakan (baik buat kesehatan badan maupun kesehatan kantong). Saya belum pernah merokok, jadi saya juga gak tau 'kenikmatan' apa yang dirasakan para perokok.

"Ya tapi kan rokok adalah hak asasi manusia", kali gitu kata para perokok. Ya udah, ambil deh hak situ. Sini gak urus kok kalau situ mau bikin sakit diri sendiri dengan racun, ya terserah situ. Masalahnya, situ gak mau nelan/nenggak/makan asapnya sih. Sini gak mau asapnya tauk!

Btw, tau gak kalau Aldi si bocah itu yang dulu katanya merokok 40 batang sehari, sekarang sudah berhenti. 'Hanya' dengan rehabilitasi selama 1 bulan saja loh. Situ gak mau berhenti juga?

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -