12 April 2013

Telpon di pagi buta biasanya  menandakan berita penting, atau berita  duka. Pagi ini demikian. Saya menerima telpon dan sms mengabarkan meninggalnya salah satu tetangga saya. Cucu dari tetangga saya, lebih tepatnya.

Rara panggilannya. Baru kelas 6 SD. Sakit persisnya saya  belum pastikan. Potongan-potongan  cerita yang saya dengar mengandung kata: tumor, kanker, ginjal, nafas sesak, tabung oksigen, kelebihan hormon, kurang minum, kebanyakan minum.

Saya aliran "umur di tangan tuhan". Kalau ada orang sakit, saya masih berani riwil nanya kenapa kapan bagaimana, tapi kalau orang meninggal saya gak
merasa perlu bertanya ini itu. Sakit atau enggak, kalau sudah waktunya meninggal ya meninggal. Tua atau muda, kalau sudah waktunya meninggal ya meninggal. Siap atau tidak keluarga yang ditinggalkan, kalau sudah waktunya meninggal ya meninggal.

Perih hati mendengar neneknya berkata "kenapa Kakak ninggalin Mamak duluan Kak?".

Perih hati mendengar ibunya berkata "salah Bunda ya Kak, Bunda terlambat".

Perih hati mendengar adiknya berkata "Kakak pingsan ya Bun? Kakak gak meninggal kan Bun?".

Oprah pernah bilang di acaranya bahwa, hati manusia tidak disiapkan untuk mengubur anak. Naturalnya yang lebih tua meninggal dunia, itu sebabnya anak berusaha menyenangkan orangtuanya selama hidupnya. Tapi orangtua tidak pernah siap menghadapi hari dimana ia harus mengubur anaknya. Nenek Kakek tidak pernah siap menghadapi hari dimana ia harus mengubur cucunya.

Tapi umur, benar-benar di tangan Tuhan.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -