28 Juni 2013

Jadi rahasia buat non HRD, tapi tidak boleh jadi rahasia dengan orang HRD.

Adalah ibu manager di pekerjaan pertama saya yang menyatakan bahwa "gaji itu rahasia, kamu gak boleh ngasih tau berapa gaji kamu ke orang lain". Sebagai anak baru lulus, saya tentu percaya si ibu manager sepenuh hati. Untuk satu hari.

Kala itu, saya memulai kerja bersama seorang anak baru lainnya. Sambil makan soto kudus, kami bicara hati ke hati. Eciye. Bukan hati ke hati soal hati ya, tapi soal gaji. Ahak ahak, ternyata pesan sakti si ibu manager cuma bisa saya patuhi selama satu hari saja. Dari pembicaraan berbau soto kudus itu, saya tahu bahwa si anak baru satunya ini gajinya lebih besar Rp 500.000,- dari saya. Apa ini bikin saya iri? Oh tentu tidak. Karena saudara-saudara, si anak baru satunya ini lulusan S2, di luar negeri (dulu ingat sudah nanya luar negerinya mana, tapi sekarang kok gak ingat ya). Dan dia S1 nya di kampusnya suami saya. Jurusannya sih sama ama saya. Bukannya iri, saya malah prihatin. Mosok kuliah capek-capek, pake passport, harganya cuma 500.000 sih di slip gaji.

Pekerjaan kedua saya, di tempat di mana banyak teman-teman kuliah saya senasib sepenanggungan sudah bekerja duluan. Jadi ketika ditawarin kerja di sana, saya tanya dulu kan sama yang sudah masuk duluan, berapa gajinya. Mereka bilang tanpa tedeng aling-aling tuh. Dan nyatanya waktu itu saya dikasih gaji yang sama juga. Ya kerjaannya juga sama persis sih. Ini, gak bikin saya prihatin.

Sampai sekarang, saya masih belum ngerti mengapa gaji harus jadi rahasia. Bukan diumbar-umbar ya,misal nulis di profil blog, twitter, fb "akulah si xxx bergaji yyy rupiah di PT zzz". Tapi, kenapa harus segan memberi tahu, kalau ada yang bertanya. Atau memberi tahu, ketika konteksnya tepat. Bukan kepada HRD perusahaan. Yang ada sekarang, ketika nego gaji dengan HRD, si HRD ga segan untuk bertanya berapa gaji di pekerjaan sebelumnya, dan umumnya tidak ada yang segan menjawab.

Jadi, yang boleh tau nilai gaji seseorang, hanya HRD? Yang boleh nanya nilai gaji seseorang, hanya HRD?

Saya sih ga sependapat ya.

Saya akan bagi pembahasannya jadi dua bagian, ke HRD dan ke non-HRD. Ke HRD dulu ya.

Menurut saya, seseorang berhak tidak memberi tahu gaji sebelumnya kepada HRD (tempat melamar pekerjaan yang baru). "Loh kan gaji sebelumnya itu jadi baseline berapa gaji sekarang", mungkin ada yang berpendapat demikian. Menurut saya, harusnya tidak ada mutlak jadi baseline. Karena:
(1) emangnya pekerjaan yang dilamar sama persis dengan pekerjaan yang ditinggalkan?
(2) emangnya standar gaji perusahan yang dilamar sama persis dengan perusahaan yang ditinggalkan? Sama-sama nyapu+ngepel, di rumah vs di hotel xxx apa iya sama nilainya?
(3) emangnya kemampuan dan keahlian ketika memulai bekerja di perusahaan yang ditinggalkan sama dengan kemampuan dan keahlian sekarang, ketika akan masuk perusahaan yang dilamar?

Kalau ke non-HRD, saya malah belum paham kenapa harus jadi rahasia. Menurut saya, ketika adil, justru harusnya tidak ada yang perlu dirahasiakan. Ketika sebanding dengan kontribusi, justru tidak perlu disembunyikan. Kalau gaji saya nilainya besar sekali, justru bisa digunakan sebagai media memotivasi orang lain "bisa kok dapat xx rupiah, jadi yy di perusahaan zz bisa dapat segitu kok". Kalau gaji saya nilainya kecil (sekali), justru bisa dijadikan dasar motivasi diri sendiri, "ih si anu yang sama-sama punya 2 mata, 2 telinga, 2 tangan, 2 kaki, bisa menghasilkan xx rupiah, masak gue gak bisa". Pun, kebahagiaan dan kepuasan hidup juga kan tidak hanya dinilai dari rupiah yang masuk di rekening setiap bulannya tho?

Dalam sesi mudik tahun lalu, tante saya bertanya, "mbak, kontrak rumahnya di sana berapa?". Saya jawab apa adanya, "xx rupiah pertahun tante". Balasan tante saya singkat saja, "oh". Ternyata besoknya, si tante nanya lagi ke saya, "mbak, emang gaji kamu berapa per bulannya?". Jiwa sensi berlebihan saya yang kadang-kadang muncul mau jawab, "ih kenapa sih tante tanya-tanya? Berapapun gajiku, kan aku gak minta makan ama siapa-siapa. Kan aku gak ngutang ama siapa-siapa?". Tapi tentu saja, saya masih waras. Untungnya, saya sempat mengernyit sebelum buka mulut untuk bertanya balik. Iya, nanya dulu baru jawab. "Kenapa emangnya tan?", saya nanya lagi. Lalu tante saya itu dengan wajah khawatir bilang, "habis kontrakanmu itu nilainya lebih dari 5 kali kontrakannya si xx (sepupu saya, anak si tante, yang tinggal di kota kelahiran orang tua saya itu). Saya kan jadi mikir, apa iya cukup gajinya?". Owalah... Ga jadi nyolot sensi lah saya. Ini pertanyaan sesuai konteks kok. Ya sudah saya jawab apa adanya. Dan si tante tersenyum lega.

Obrolan lain lokasi, lain pelaku. "Er, beneran ya SPP di sekolah xxx itu yyy per bulannya?", tanya seorang teman. "Ya mungkin aja sih mbak. Itu kan sekolah swasta", jawab saya dengan ringan. "Mungkin termasuk ekskul dll gitu mbak", saya nambahin. Gak tau 100% sih, tapi ya gak ngarang 100% juga kok saya. "Buset, berapa itu gaji emak bapaknya ya?. Kalau anak gue  sekolah di sana, gaji bapaknya bisa abis buat SPP doang, kita di rumah puasa hahahaha", jawab si mbak lawan bicara saya. Nah, si mbak ini tentu tidak tau kalau mungkin saja gaji orang tua si anak 3 kali xxx, atau 4 kali xxx, atau bahkan 10 kali xxx.

Kalau dikasih tau nanti kan bisa bikin iri, mungkin ada yang menjawab demikian.

Menurut saya, semua kembali ke niat. Niat yang nanya, mau nyari hal untuk di-iri-in apa bukan? Niat yang jawab, mau bikin ngiri orang lain bukan?

Ga tau kalau orang lain ya, kalau saya sih, dengar orang lain gajinya 2x, 3x, atau bahkan 10x lipat gaji saya, ga membuat saya iri kok. Hidup orang beda-beda, kerja keras orang beda-beda, gaji orang beda-beda, dan bahagia orang juga beda-beda. Kalau saya punya gaji 10x lipat dari gaji sekarang, apa iya hidup saya lebih bahagia? Apa iya badan saya lebih sehat? Apa iya sifat saya lebih baik? Apa iya keimanan saya lebih baik? Apa iya teman-teman saya sebaik yang sekarang? Apa iya kebebasan saya memilih mau kerja (lagi) apa enggak seperti sekarang? Apa iya rasa syukur saya seperti sekarang? Apa iya saya jadi manusia yang lebih bermanfaat? Dan banyak sekali "apa iya" lainnya.

Jadi, ini bukan menghibur diri. Ini puas dengan rezeki.

6 Responses so far.

  1. Kalau gajiku semua orang pun tau.. hahhaa


    BTW, kadang segan loh nanya gaji orang.. takut bikin orangnya ga nyaman. padahal ya maksudnya bukan mau ngiri.. tapi mau ngukur, kalau gw pindah kesitu worth it ga. :p

  2. keblug says:

    gajiku masih di bawah UMR. UMR orang ngeropah...hiks

  3. setuju dengan kesimpulannya.... bahagia bekum tentu equivalent dengan gaji.

    .... tapi dogma gaji kudu rahasia masih melekat, ga nempel banget siy... hehehe

  4. nilaszaki says:

    Kalau aku sih tergantung tujuan yang nanya. Kalau menurut aku dengan memberi tahu gaji akan membantu, dikasih tahu aja. Tapi kalau ngga membantu ya ngga perlu dikasih tahu.

    Misal waktu itu ada temen yang dapet kerja di dua tempat, satu di bank dan satu dikantorku. Dia tanya penghasilanku, ya dijawab aja nominalnya. Karena penting bagi temen kita sebagai dasar keputusannya.

    Kalau tujuannya cuma mau tahu biasanya cuma saya kasih tahu ancer2nya aja.

    Kalau ada yang nanya trus dijawab "ntar lo sirik sama gue". Itu mungkin maksudnya mengelak secara halus bukan bermaksud menuduh lo bakalan iri kali. xixixi.

  5. @Capcai. Semua orang? Semua orang? Masak sih :p

    @Keblug. Rumput tetangga oh rumput tetangga

    @Dinna. Jadi, kamu bahagia gak? Eh salah, kamu gajinya berapa? Hehehe

    @Nilas. Tujuan yang nanya, kan hanya yang nanya yang tau Las. Tujuan yang ditanya (menjawab atau tidak) hanya yang ditanya yang tau. Ya gak?

  6. bananas says:

    halo , topik ini menarik bagi saya, karena saya baru saja lulus kuliah, dan saya belum punya pengalaman kerja, maka itu saya juga tidak tau harga pasar di bidang desain.

    waktu itu, saya nanya gaji kepada salah satu teman di kantor kerja praktek saya, dan dia dengan sewot menjawab "yeee kamu mah ga sopan nanya gaji, rahasia donggg", yaa saya kan baru lulus kuliah dan mau terjun ke dunia kerja :(

    kalau menurut saya pribadi, mungkin kalau gajinya kecil, dia malu, karena ketahuan kinerjanya tidak baik. dan kalau gajinya besar, dia takut tersaingi sama yang baru masuk.

    sejujurnya, saya masih bingung kenapa harus jadi rahasia ya? padahal kan itu motivasi, sekedar sharing. ibaratnya kita nanya ukuran daleman, masih perawan atau tidak dsb. hahahah


- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -