09 Juli 2013

Besok Ramadhan.

Malam-malam Ramadhan, dan malam takbiran selalu menghadirkan rasa nostalgia. Eciye, nostalgia. Pola hidup jadi berubah signifikan saat Ramadhan. Yang biasanya gak pernah ke masjid, jadi menginjakkan kaki ke masjid. Yang biasanya gak pernah makan pagi buta, jadi bangun dan makan pagi buta.Yang biasanya gak pernah masak, jadi masak. Yang pernah bikin kue, tapi gak biasa, jadi bikin kue.

Karena setiap hari adalah perjalanan. Setiap kejadian adalah pelajaran. Dan pelajaran yang (insya allah) berhasil saya ambil menjelang Ramadhan ini adalah: kita gak pernah tau kapan keadaan akan berubah. Wuisss.. serius banget. Kenapa begitu? Lihat saja Ramadhan-ramadhan lalu, ada yang bisa jamin Ramadhan ini akan sama persis dengan tahun lalu? Atau tahun lalunya lagi? Atau lima tahun lalu?

Ada Ramadhan yang saya hampir gak penah absen tarawih di masjid dekat rumah. Waktu itu sih masih pakai seragam putih-merah atau putih-biru. Duduk manis membawa buku catatan, mendatangi bapak penceramah di akhir shalat. Baik gak-pernah-absen-tarawih nya atau duduk-manis-membawa-buku-catatan nya kian berkurang setiap tahunnya.

Ada Ramadhan dimana saya bisa menikmati segarnya udara pagi sesaat sebelum adzan Subuh, karena saat itu saya melangkahkan kaki ke masjid untuk solat Subuh berjamaah. Langkah kaki ini sudah tidak saya lakukan lagi.

Ada Ramadhan dimana saya dan ibu mendaftar bahan-bahan kue apa saja yang sudah kami miliki versus bahan apa saja yang masih kami perlukan. Kue-kue yang biasanya kami buat untuk lebaran adalah nastar, semprit, putri salju, kastengel (ini, gak setiap tahun), kue kacang, dan kacang goreng. Ada Ramadhan dimana ibu saya membuat manisan kolang-kaling karena penasaran dan doyan dengan manisan kolang-kaling yang rajin teman saya kirimkan ke rumah kami menjelang lebaran. Kue-kue itu, sebagian masih bisa saya munculkan.

Ada Ramadhan dimana saya dan suami menyalakan motor, menembus angin malam, dan mengetuk rumah mertua untuk sahur bareng. Niatnya sih biar di sana ada yang nemenin sahur. Tapi di beberapa kesempatan, kami malah membangunkan mertua yang masih asyik tidur. Perjalanan ini, rasanya tidak akan kami lakukan lagi Ramadhan ini.

Ada Ramadhan dimana saya memasak sahur dan buka hampir setiap hari. Memasak sayur dan lauk dengan hanya 1 kompor saja, sungguh tantangan. Belum lagi perlu air hangat untuk buat teh manis hangat kan. Hohoho. Tapi ini, ternyata bisa dikerjakan kok. Jadi catat ya, saya bisa masak. Enak apa tidak, itu masalah selera. Hahaha. Ramadhan ini, semoga bisa saya kerjakan lagi.

Ada banyak Ramadhan lainnya yang tidak bisa saya replikasi di Ramadhan ini. Ada juga yang bisa direplikasi. Nikmati saja perjalanan ini. Ambil saja pelajarannya. Jangan lupa mensyukuri hal-hal kecil yang dengan mudahnya terlewat. Mana tahu, tahun depan tidak bisa dimiliki lagi.

Manda, punya ide bagus dengan Doa Ramadhan Tahun Ini. Mau juga ah!

Selamat berpuasa teman-teman!

One Response so far.

  1. mandhut says:

    :D kenangan2 kecil tapi ngangenin yah

    semoga buka puasa Ramadhan tahun ini menyenangkan ya, semoga doa Ramadhan-nya juga terkabul :)

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -