01 September 2013

Rumah yang saya tinggali selama 28 tahun non stop, lokasinya hanya 50 meter dari masjid. Itu jarak jalan kaki. Jarak peta malah cuma 10 meter mungkin. Jadi suara azan jelas terdengar dari rumah kami. Tapi, bahkan dengan jarak yang sangat dekat itu, suara azan Subuh hanya saya dengar saat Ramadan. Bukan karena tidak ada yang azan, tapi karena telinga ini sibuk menidurkan diri bersama badan. Tapi ini hanya saya ya. Ibu saya sih sukses bangun tiap dengar azan Subuh.

Lain cerita saat Ramadan. Azan Subuh jelas sekali terdengar di kuping saya. Apalagi masa itu, kami nyaris tidak pernah kesiangan sahur. Seringkali saya dan ibu berjalan menuju masjid dengan menembus dingin Subuh. Kombo dingin dari wajah yang disiram air lalu diterpa angin Subuh yang memang dingin.

Lain lagi saat bukan Ramadan. Ada yang pernah dengar istilah "kue subuh"? Ini kue-kue yang lapaknya sudah dibuka sejak subuh. Saya sering diajak beli oleh ibu dan madame. Beberapa bulan sekali, salah satu dari ibu atau madame akan kebagian jatah konsumsi arisan. Artinya membeli 4-5 jenis kue untuk dimasukkan ke kotak yang akan dibawa pulang ibu-ibu peserta arisan. Untuk menunaikan tugas ini, ibu dan madame membeli kuenya di Blok M. Kami berangkat tepat setelah solat Subuh. Solat Subuhnya tepat sesudah azan. Naik metromini andalan 71 atau 74 yang masih kosong song song. Sambil menemani ibu ibu ini memilih kue, saya akan mencatat dalam hati kue mana saja yang menarik hati saya. Lalu ibu akan membeli 2-3 buah. Dari rumah tidak perlu sarapan, karena proses memilih penjualnya meliputi adegan berikut
Ibu: Lempernya enakan yang bakar apa kukus bu?
Penjual: Selera sih bu. Cobain aja dulu
Madame: Icipnya ga diitung kan bu?
Penjual: Ya enggaklah. Kalo ga enak ga beli gapapa

Nah ibu+madame dengan cerdasnya membelah kue icip ini. Kalo saya doyan, ya saya kebagian 1/3. Kalo ga, ya mereka berdua saja yang berbagi. Strategi ini sukses mengantisipasi ancaman "wareg" atau "mblenger". Itung-itung sarapan juga tho. Cerdas bener pokoknya deh.

Beberapa waktu ini, saya berhasil membangunkan diri sebelum azan Subuh.

Dan pada sayup azan Subuh yang terdengar bersahutan, saya menarik nafas panjang. Memejamkan mata sesaat. Merapal doa. Mengusap mata.

2 Responses so far.

  1. keblug says:

    love last line.
    tahun ini kumpulan cerpenmu sudah harus masuk penerbit, Ma...

  2. Ahak.. akuh gak bisa bikin cerpen loh

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -