29 September 2013

Meski episode Ngedapur tidak kunjung ditambah postingannya, tetaplah yakin bahwa saya masih rajin Ngedapur. Yah minimal stok sabun cuci piring terus berkurang. Bawang putih dan merah terus di restok. Laci terbawah di kulkas jadi terisi terus. Beberapa kali juga bikin kue loh. Nanti deh dipamer disimi hasilmya. Eh gak papa ya, pamernya kan memotivasi. Memotivasi Ira untuk beli happy call misalnya, atau Yustin untuk beli oven dan mixer. Tolong Agus dan Bisri, saya jangan dipentung ya.

Salah satu faktor yang mendukung episode Ngedapur saya adalah lokasi geografis rumah kontrakan yang dekat sekali dengan pasar. Serius dekat sekali. Paling cuma 100meter. Jalan kaki lima menit saja. Saya jadi bisa ke pasar setiap hari. Belanja sedikit-sedikit saja. Kadang agak gak enak hati juga sih sama penjualnya ketika minta bayam 2 ikat, jagung 1 buah, cabe keriting 2 ribu rupiah, jeruk nipis 3 buah. Seringkali jumlah transaksinya hanya belasan ribu rupiah. Etapi rasa gak enaknya berkurang sih saat si ibu atau mas penjual ngeluarin uang segepok untuk mengambil kembalian buat saya. Banyak aja gitu uangnya. Berapa ya omsetnya tukang sayur di pasar? Apalagi kalau lagi beli dada ayam tampa tulang. Saya yang beli cuma separuh dada, sepuluh ribu harganya, melihat tumpukan uang si penjual didominasi lembaran merah dan biru. Tebal. Perasaan saya aja ga pernah megang tumpukan uang setebal itu. Eh dia malah tiap hari.

Pasar ini cukup lengkap koleksinya. Sayur daging ikan tahu tempe jelas ada. Buah ada. Beras kerupuk mentah ada. Toko emas ada. Peralatan dapur ada. Bahkan bahan kue juga ada. Krim kemtal, mentega, chocolate chips, pasta kue, dus, mika, adalah semua. Oh aku suka.

Saking sukanya, saya wanti-wanti ke suami agar nanti mbeliin rumah yang deket sama pasar. Deket itu maksudnya jalan kaki tanpa ngos-ngosan. "Pokoknya kalau pasarnya jauh, saya malas masak", ancam saya.

Reaksi suami? Santai aja. "Beli kan? Kalau ngontrak lagi, di mana aja berarti ya!", jawab dia. Asyem.

Ada yang rumahnya deket pasar juga?

3 Responses so far.

  1. Aku juga mau oven dan mixer ples presto ples toaster. Lah.. kog minta disini...

  2. keblug says:

    kalau aku minta mixernya yang kitchen aid retro warna merah ya, Ma.. :D

  3. Ira, kalo uda ada oven ga perlu toaster lagi. Oya, presto ga usahlah, modal sabar aja masak pake panci biasa, ntar juga empuk.

    Yustin, beginner mah mixer biasa aja cukuupppp.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -