20 November 2013

Mari bikin kategori baru lagi di blog. KPR, bukan Kredit Kepemilikan Rumah. KPR saya, Kalo Punya Rumah.

Dari lahir sampai sekitar 2 tahun lalu, saya tinggal di rumah dinas. Rumah milik negara. Bangunannya sudah dimodifikasi sesuai kebutuhan penghuninya meski luasnya ya segitu-gitu aja. Setiap mau modifikasi besar, yang dipikirkan para penghuni komplek adalah "kalo abis renovasi lalu kena gusur, rugi yak". Demikian pula dengan orangtua saya. Anak yang baik gak banyak protes kan ya, udah untung gak ngontrak, gitu selalu prinsip (penghiburan diri) kami.

Zaman SMP saya dan teman seumuran di komplek suka nongkrong di pinggir lapangan saat malam minggu. Masa itu belum ada yang dikasih keluar pacaran malam minggu. Yang punya pacar pun paling beraninya nelpon aja. Kami berlima. Sesi nongkrong kami kadang diinterupsi dengan panggilan dari rumah "mbak, ada telpon dari si anu". Saya gak punya telpon. Dan gak punya pacar.

Salah satu topik ngalor ngidul lima gadis belia ini adalah, "ntar kalo punya rumah, maunya yang kayak apa".

Mau rumah dengan halaman secukupnya saja. Saat itu dia merasa bosan dan capek dengan tugas menyapu halaman setiap sore yang dititahkan orang tuanya.

Mau rumah yang punya pagar besi. Saat itu dia diajak bapaknya setiap sore menyalakan lampu di rumah tetangga yang sedang keluar kota, buka tutup pagar terasa keren sekali masa itu.

Mau rumah yang ada anjingnya. Saat itu ibunya tidak mengizinkan memelihara anjing. Hanya dikasih boneka anjing. Padahal kan uda lewat masanya main boneka.

Mau rumah yang ada telponnya. Saat itu dia harus numpang di tetangga untuk memerima telepon. Lalu jalan ke wartel untuk menelpon.

Mau rumah yang telponnya gak dikunci. Saat itu dia punya telpon di rumahnya, tapi dikunci jadi hanya bisa menerima telepon. Padahal kan sekali-kali pengen juga nelpon pacar.

Ampun, simple banget ya cita-cita kami waktu itu. Gak ada yang mikir mau rumah di daerah mana, luasnya berapa, di cluster apa bukan, rumah baru apa lama, kredit apa tunai. Ya masih SMP gitu loh.

Salah satu dari "mau" di atas adalah cita-cita saya waktu itu. Ada yang bisa nebak yang mana?

5 Responses so far.

  1. innniii

    Mau rumah yang ada telponnya. Saat itu dia harus numpang di tetangga untuk memerima telepon. Lalu jalan ke wartel untuk menelpon.

  2. ahhh salah pakai akun.. *nasib ngelihat di jam kantor*

  3. Ira make akun siapa ituh?
    Eh, salah pula jawabannya :p

  4. Heny says:

    Ih erma cocok jd penulis novel detektif deh kyknyaa.. :D

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -