21 November 2013

Sore tadi, ketika sedang asik menuang adonan sponge cake ke loyang, hp esiya saya bunyi. Ini hp yang jarang sekali bunyi karena nomornya juga ga disebarluaskan. Selama ini bunyinya hanya berasal dari sms masuk yang mengabarkan bonus masa aktif kalau isi ulang xxx selama xx hari. Kali itu, ada panggilan masuk. Dari nomor esiya juga, yang tidak terdaftar di memori hp.

Untung saya berhasil melawan rasa malas menjawab telpon dari nomor tak dikenal."Ini temen bapakmu Er", ujar suara pria di ujung sana.

Saya panggil dia pakde.

Pakde ini, memang teman bapak saya. Mereka berteman karena berasal dari kampung yang sama. Kampung yang kini terkenal karena lumpurnya.

Meski sponge cake saya telat masuk ke oven selama 16 menit, saya bersyukur mengangkat telpon itu. Oh, plus merasa bersalah dan berdosa juga di hati. Anak tak tau diri ini kok bisa-bisanya dengam songongnya tidak menyambung tali silaturahmi dengan salah satu sahabat bapaknya. Itu saya.

Ini pakde yang rajin didatangi rumahnya setiap lebaran oleh bapak saya. Disana, ibu si pakde menganggap bapak saya seperti anaknya sendiri. Menganggap saya dan adik seperti cucu sendiri.

Ini pakde yang rumahnya hanya 500m dari rumah dinas orangtua saya. Ini pakde yang suka iseng datang ke rumah, naik motor tua, waktu bapak masih ada, lalu kemudian berbincang berjam-jam di teras rumah.

Ini pakde yang masih menyempatkan diri berkunjung ke rumah meski bapak sudah tidak ada. Kemudian berbincang dengan om tetangga, kali itu ditemani pemandangan ayam dan burung peliharaan si om.

Ini pakde yang datang setiap libur semester, di masa kuliah saya, untuk bertanya "semester ini bayar berapa Er?" pada saya. Yang biasanya saya jawab "lima ratus sepuluh ribu aja pakde". Ia kemudian akan datang beberapa hari kemudian dengan slip transfer bank be-en-i bertuliskan nama saya dan NPM saya. Menandakan kewajiban keuangan saya semester itu tunai sudah.

Ini pakde yang ngomong "udah kawin aja Er" waktu tau saya sudah punya pacar. Tapi nadanya gak intimidatif. Nada santai ala mau-sukur-belum-mau-juga-gak-papa-papa.

Ini pakde yang istrinya sudah meninggal dan dimakamkan di pemakaman wakaf yang sama dengan orangtua saya. Jadi bahkan hingga saat ini, ia masih "mengunjungi" orangtua saya.

*sebentar, saya ambil tissue dulu*

Ini pakde yang sms saya "selamat ulang tahun pernikahan yang pertama Er, semoga menjadi keluarga samara" di tanggal yang tepat. Pada masa dimana ucapan ulangtahun hanya bertaburan di dinding fb, itupun karena ada reminder. Bahkan saya dan suami tidak saling mengucapkan selamat. Ketika saya balas dengan pertanyaan "kok tau tanggalnya pakde?". Jawabnya "kan undangannya masih pakde simpan". Ya Allah, kertas undangan yang saya bikin cuma 50 lembar itu, yang saya dan Pitri print di rumah Pitri itu, yang saya tulis tangan nama penerimanya itu. Sungguh membuat saya gak menyesal berprakarya berjam-jam dengan si Pitri 2010 lalu.

Ini pakde yang kemarin berkata "saya kan 17 tahun Er, 17 kebalik" sambil tertawa. Tujuh puluh satu tahun. Sama dengan usia bapak saya. Kalau masih ada.

Menelan rasa malu, saya berkata di telpon "maaf ya pakde, aku gak pernah main ke sana. Abis ini aku mampir deh ke rumah. Toh sebulan sekali aku ke daerah xxxx kok". Iya, saya ngamter struk listik sebulan sekali ke rumah yang berjarak 50m aja dari rumah si pakde. Si pakde menjawab ringan, "gak papa Er, telpon begini juga sudah termasuk silaturahmi kok".

*sebentar, saya nampar diri sendiri dulu*

Ada rasa hangat di hati mendengar cerita si pakde, yang sekarang kerjanya nganter jemput cucu ke dan dari paud. Naik motor tua. Sambil digoda montir bengkel "kayaknya larinya bapak masih lebih kencang daripada motornya deh".

Yang mengajak cucunya ziarah ke makam sang mbah putri lalu berkata, "nanti kalau mbah meninggal ya disini dikuburnya". Lalu si cucu ,menjawab, "ya jangan mbah, di rumah aja, biar deket".

Yang menjawab "saya gak doyan makanan aneh Er. Singkong aja doyannya" waktu mendengar saya sedang membuat tiramisu.

Kadang saya diam dan bertanya-tanya, apakah kelak saya akan punya sahabat seperti persahabatan bapak saya dengan si pakde?

6 Responses so far.

  1. Ah kamu... bikin nangisssss

  2. ahlisufi says:

    Salam buat sang Pakde..... hiks hiks......

  3. umi uci says:

    Skrg jg paling malas sambung silaturahmi sama teman mama papa....hah..

  4. umi uci says:
    Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
  5. Persahabatan yang indah ... *terharu ...

  6. @Ira. Ah kamu... aku kirim tissue ya

    @ahlisufi. Salamnya dari siapa nih?

    @Umi Uci. Ini kakaknya Ira ya? Ayo ayo sambung silaturahmi sama teman mama papa

    @Bisri. Iyah

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -