20 Desember 2013

Selamat datang di postingan domestik. Sungguh sangat domestik.

Saya besar dengan moda kompor minyak tanah dan air minum yang dimasak. Peralihan ke moda gas terjadi setelah proses pengalihan minyak tanah ke gas, waktu itu bahkan dapat kompor dan tabung gas kecil gratis dari kelurahan. Itu masih di hankam. Itu ada tetangga yang jualan gas hanya 200m dari rumah. Kalau pengalihan ke moda galon ketika tetangga samping rumah persis jual galon (dan gas). Sudah punya penghasilan sendiri, perekonomian membaik, mari kita (gaya-gayaan) beralih ke galon. Selama itu, rumah tangga bisa beroperasi dengan satu gas dan satu galon saja. Masak masih jarang, air bisa dituang ke botol.

Lalu kontrak di Kenari.

Masih ketemu penjual gas dan aqua dekat sini. Lalu yang biasanya ditelpon langsung nganter, jadi 1 jam baru diantar. Kan sebal. Dan kalo sebal ama penjual, saya gak pakai moda komplen atau ngamuk, tapi moda "okeh baiklah, cukup sampai disini, aku tak mau pesan padamu lagi, pokoknya tak mau!!!". Kejam? Biarin.
Pindahlah ke penjual lainnya. Berhubung biasanya cuma pesan aqua satu galon atau gas kecil, suami yang agak gampang merasa iba, menambahinya dengan indomie atau sabun mandi. Maksudnya biar volume transaksi nya agak besar. Sudah pakai moda ini, penjual yang ini malah jawab "ya nanti ya" kalau ditanya kapan diantar. Astaga dragon. Padahal jaraknya deket banget, yamg jalan kaki juga saya kuat. Padahal kalau dia berani jawab "30 menit" misalnya, selama 40 menit pertama saya kan ga akan esmosi. Paling mulai meneror di menit ke 45. Lagi, kalau saya yang jadi penjual, saya akan jawab "diantar 1 jam lagi boleh bu?" kalau saya perkirakan 40 menit kemudian baru bisa nganter. But again, itu kan kalo saya yang jualan. Anyway, penjual kedua ini juga bikin ilfeel, jadi cukup sampai disitu deh.

Kemudian suami nemu penjual ketiga. Awalnya sih ga sengaja, niatnya mau ke minimarket aja belinya, jadi dimasukin lah galon kosong ke bagasi. Ternyata di perjalanan, ada penjual aqua dan gas. Beli lah disana. Dimasukin galonnya ke bagasi. Penjualnya tanya "memang dimana rumahnya pak?". Dijawab oleh suami. "Oh itu dekat, lain kali telpon aja". Lalu dikasihlah bon dengan nomor telepon. Sekali, cepat. Dua kali, cepat. Tiga kali, gak cepet. Dan itu ketika pesennya gas, dan lagi masak. Si mas yang nganter minta maaf karena katanya banyak pesanan. Oke, jadi saya tanya harga tabung gas berapa, biar punya stok. Saya beli tabung gas kecil satu lagi, dan galon 2 lagi. Jadi tiap pesan pasti 2 jenis, aqua satu gas satu atau aqua dua. Harapannya, supaya saya gak perlu sering-sering mesan, dan nilai transaksi saya tiap mesan juga meningkat. Kemudian cepat. Kemudian masalah baru muncul.

Gas kecil ga ada stok nya.

Gak bisa nyalahin dia, lha wong emang ga dapet kiriman. Jadilah saya berpindah-pindah beli gas, termasuk ke penjual yang nanti nanti itu. Kalau gas biasanya saya tenteng sendiri ke pasar, dekat sih, gapapa. Tapi lalu di pasar juga kosong.

Oh. Cobaan domestik lainnya.

Rumit amat sih masalah domestik ini. Gak tau apa kalau saya lagi rajin nyalain kompor?!

Rumah lainnya mengalami masalah pelik seperti ini juga ga sih?

One Response so far.

  1. Ah gw juga beli pure it karena bermasalah sama galon. Dulu tinggal telpon mas-masnya nganterin dalam sekejab. Sekarang harus jalan dulu. Itupun datangnya luammma dan habis stock. Sudahlah.. pure it saja kita..

    kalau gas berhubung pakai ukuran gede jadi lumayan lama Ma habisnya>

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -