06 Januari 2014

Ikhlas itu, melakukan sesuatu karena Allah. Titik. Itu definisi saya. Gak hanya soal memberi atau menolong, menurut saya sih, segala hal yang dilakukan perlu ikhlas. Dan salah satu latihan ikhlas adalah melakukan sesuatu ke orang yang pelit pujian, pelit terima kasih. Ingat kalimat pertama saya? Kalau ikhlas kan yang dilakukan buat Allah saja, balasan yang diharapkan ya dari Allah saja. Gak di-terimakasih-i lalu kesal? Lah ngelakuinnya karena ingin di-terimakasih-i gitu? Malah dicela oleh orang lain? Lah ngelakuinnya karena ingin dipuji gitu?

Ini bukan postingan ngajarin atau menggurui. Ini postingan berbagi. Masak tempat makan enak aja yang dibagi informasinya, pelajaran hati mau disimpan sendiri aja. Kalau bermanfaat alhamdulillah, bisa jadi tabungan pahala. Kalau tidak bermanfaat ya diklik aja tanda silang di kanan atas itu.

Suatu hari, saya menemui seseorang. Biasanya, saya membawa A B C D saat menemui orang ini. Beberapa waktu sebelum pertemuan, ia minta saya bawakan C D. Kali itu, saya gak berhasil menemukan C nya, jadi saya hanya bawa A B D. Lalu dia kecewa. Lalu dia bilang, aku butuh sekali C nya, disini susah sekali menemukannya. Saat itu, saya diam. Menelan ludah. Menahan rentetan balasan kekecewaan. Saya hanya membalas, "maaf kalau mengecewakan, saya sungguh gak bisa menemukan C. Jika ada, sayapun pasti sudah bawakan". Saya tidak tahu apakah saat itu kekecewaannya sudah terobati. Kami berpamitan baik-baik.

Saat wajah sudah tidak lagi bertatapan, air mata kabur perlahan dari mata saya. Jagoan kan memang nangisnya sembunyi-sembunyi. Perih sekali hati saya waktu itu. Sakit rasanya ketika yang diingat, yang disebut, yang dibahas, adalah C. Yang kurang dari saya. Tidak ada bahasan tentang A B D yang berhasil saya bawa. Padahal semua itu gak mudah. Saya mengeluarkan waktu, tenaga, biaya, dan perasaan untuk membawakan A B D. Mana pujian, mana terima kasih, mana rasa syukur?

Harus membela diri nih. Harus klarifikasi nih. Harus bikin dia sadar nih.

Tapi kemudian saya menarik nafas panjang. Mempertanyakan kembali ke diri sendiri, buat apa sih saya lakuin ini? Buat apa sih saya bawa A B D? Buat cari pujian? Buat cari terima kasih? Buat piutang budi? Niat saya kan ikhlas, yakin bahwa yang saya lakukan itu disuruh Allah, yakin bahwa hal itu baik, yakin bahwa saya tidak menyakiti orang lain, yakin bahwa Allah yang akan memberi balasannya. Kalau sudah yakin begitu, buat apa saya harap terima kasih? Buat apa saya harap penghargaan? Buat apa saya harap pengakuan?

Apakah setelah mikir begini, air mata kembali ke persembunyiannya? Tidak segera. Namun jelas hati terasa lebih ringan. Perih menghilang. Sakit hati bisa terlupakan. Buat saya, ini satu latihan untuk ikhlas.

Jadi teman, jika suatu hari kamu melakukan sesuatu dan tidak mendapat reaksi/balasan/respon yang sesuai dari MANUSIA, tarik nafas panjang lalu tanya pada diri sendiri "saya lakukan ini karena ikhlas bukan?". Jika jawabnya ya, tutup mulut, tegakkan kepala dan hapus air mata. Karena Allah tidak akan lupa, tidak akan salah.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -