03 Februari 2014

Tau dada ayam fillet? Gak tau? Kalau dada ayam tau kan? Nah dada ayam fillet sama dengan dada ayam tanpa tulangnya dan kulitnya. Duh meja saya berantakan sih jadi gak layak difoto sebagai latar belakang si dada ayam fillet. Anyway, di pasar dekat kontrakan saya, si dada fillet ini dijual sepasang, kanan kiri, dari seekor ayam. Belinya gak harus sepasang, sebelah aja boleh kok.

Sejak episode ngedapur saya sahkan, saya selalu menggunakan dada fillet pada setiap masakan yang melibatkan ayam. Belinya sebelah aja. Biasanya beratnya 2 ons dan dihargai Rp 8000,- sampai 10000, seringnya sih di 8000. Biasanya saya potong jadi 4-6 dan pas deh disajikan untuk porsi lauk makan malam suami istri riang gembira ini. Saya selalu membelinya di penjual yang sama, hanya karena pilihan random saya yang sejauh ini tidak mengecewakan. Ia sih mengklaim, ayamnya baru setiap hari, kalau ternyata ada yang gak segar monggo dibalikin. Return policy si penjual ini belum permah saya ujikan, lah meski ga tau bagaimana ayam yang gak segar kaya apa, sejauh ini ayamnya enak-enak aja dimakan, ga pernah ada gangguan perut pula.

Jadi sudah lebih dari 6 bulan saya beli di penjual yang sama. Gak tiap hari memang, sedikitnya seminggu sekali lah.

Baru pagi ini si penjual nanya, "buat bayi bu?".

Saya: Enggak kok pak, buat saya dan suami
Penjual: Masaknya gimana bu?
S: Ya sama kayak ayam biasa pak, digoreng, dibalado
P: Dibumbuin juga?
S: Iya pak (kalo gak pake bumbu ya hambar kali pak)
P: Bumbunya apa bu?
S: Sama dengan masak ayam utuh aja pak, cuma porsinya aja dikurangi (padahal karena saya gak hafal resep dan bumbu, harus liat buku hahaha)
P: Oh, saya selama ini gak kebayang ini masaknya diapain
S: Masak biasa kok pak, cuma lebih enak aja makannya kan sudah gak ada tulangnya. Masaknya juga lebih cepat
P: Iya juga ya, kok saya ga kepikiran

Kemudian miss Erma pun nyengir sepanjang perjalanan pulang dari pasar.

Apa iya cuma saya doang yang masak ayam pakai dada fillet?

Jadi asal usulnya adalah, saya dan suami tidak terlalu doyan ayam. Jika ada pilihan daging sapi, udang, cumi, tahu, tempe, ayam, ikan, maka urutan pilihan kami ya sama dengan urutan teks itu. Ayam jadi pilihan terakhir sebelum ikan. Seingat saya, ibu saya menyajikan ayam dalam bentuk soto aja, itu juga sudah disuwir. Opor pernah namun sebagai tandem rendang sapi, pas lebaran doang pula. Madame sih sering menampilkan ayam di meja makannya, dan saya sering pula memilih memcomot tahu atau tempenya daripada ayam. Mertua sih bilang anak bungsunya gak pernah makan ayam di rumah. Sudah begitu, saya juga merasa terintimidasi dengan tampilan seekor ayam yang buesar itu. Lah saya paling banyak masak buat 3 porsi, kalo belinya seekor ayam, kapan tandasnya tuh masakan?

Lalu berkenalan lah saya dengan Chicken Cordon Blue nya Tamani. Yang biasanya makan hokben selalu milih sapi, yang milih burger (sapi) daripada fried chicken, yang milih soto betawi (sapi) daripada soto lamongan (ayam), mendapati ternyata chicken cordon blue itu enakkk.

Lalu latah beli happy call bareng temen-temen kantor.

Lalu ada resep chicken cordon blue di buku resepnya.

Lalu melihat bentuk dada fillet di supermarket dekat rumah.

Bikin sendiri deh di rumah. Dan gak kalah enaknya dengan si Tamani. Ya kan cuma ayam diselip smoked beef dan keju lalu dilumuri tepung lalu digoreng. Gak ada bumbu khusus. Dan semenjak itu saya dan suami mendapati, ayam ternyata enak juga, dan murah pula. Dan makan ayamlah kami. Tapi tetap dada fillet pilihan kami.

Hidup dada fillet!

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -