07 Mei 2014

Sebelum memutuskan pindah kontrak ke rumah yang sekarang, saya dan suami sudah lumayan sering main ke daerah sini. Seorang teman suami, tinggal di cluster sebelahan dengan cluster yang sekarang kami tempati. Masalahnya, kami datang ke rumah dia naik motor, atau mobil. Kalau si teman ini, dia punya motor.

Kesepakatan awal, suami akan bermotor ke stasiun lalu 'ngereta' ke kantor. Saya akan mengumpulkan nyali, membaca banyak doa, untuk berani nyetir si Oren. Kan udah kursus juga. Tapi untuk jaga-jaga, saya sok kenal sok dekat kirim email ke Meta sebagai penghuni BSD. Nanyanya nanya bodo ala belanjanya di mana, Jumatan di mana, mau keluar rumah naik apa, sampai yang paling norak soal token listrik. Ya maap, kenalnya listrik pasca bayar doang tadinya. Untungnya, dijawab loh pertanyaan-pertanyaan bodo saya itu. Ih, blogger baik-baik ya orangnya.

Untuk melindungi diri dari stalker (ish, situ artis mbak?) mari kita sebut wilayah rumah ini dengan sandi SONO. Buat yang penasaran banget (ya kali aja ada) di BSD sebelah mana, dari Giant Teraskota, dua lampu merah setelahnya, ke rumah Meta belok kanan, ke rumah (kontrakan) saya belok kiri. Okeh lanjut.

Kata Meta, ada shuttle yang masuk ke SONO. Tapi ada jadwalnya ya, bukan ala angkot yang beredar kapan aja. Konon juga bisa minta jemput/antar sampai depan rumah. Info lebih lanjut, mungkin bisa tanya satpam, berhubung narsum kita juga belum pernah nyoba naik shuttle hihihi. Nanti bikin postingan sendiri deh buat info shuttle ini, kali aja ada yang butuh.

Belum sebulan di sini, saya sudah berhasil mencoba shuttle ini. Ongkosnya Rp 5000,-. Jauh dekat sama. Metode ini melatih disiplin waktu. Dan kemampuan menjadwal dan menepati jadwal. Tapi terakhir lewat jam 17.30 aja ya.

Alternatif kedua untuk 'menuju peradaban' adalah dengan taksi. Saya sudah nyoba naik taksi burungbiru itu, dari Giant ke rumah Rp 25.000,- Itu sesuai argo. Kalau untuk keluar rumah sih belum pernah. Tapi sekarang minimum charge untuk order by phone kalau ga salah Rp 40.000,- kan ya? Metode ini agak bikin bangkrut ya bok.

Alternatif lainnya yang saya pernah coba adalah jalan kaki. Belum pernah saya ukur pakai skala peta sih, tapi pakai mobil kalau tidak salah sekitar 2km jarak rumah ke Giant. Di suatu sore yang teduh, diwarnai hasrat menjemur yang menggelora, saya pun berjalan kaki. Soal jemuran, bisa jadi postingan tersendiri juga nih. Oya, jalan kaki santai sambil nengok kanan kiri tapi tanpa berhenti, 1 jam 10 menit. Iya, 70 menit. Dengan keringat bercucuran tentunya. Tapi ga sampai mau pingsan kok. Metode ini bisa bikin kurus. Kalau dikerjain setiap hari. Kalau sebulan sekali ya enggak.

Alternatf terbaru yang saya temukan saat bengong di jendela adalah angkot. Favorit saya. Karena waktunya lebih bebas. Meski jarak hanya sekitar 2km, tapi perlu naik angkot 2 kali. Tidak ada yang langsung. Total rp 6.000,- sekali jalan. Hanya lebih mahal seribu dari shuttle.

Dan dengan ditemukannya jalur angkot, damailah hati saya.

4 Responses so far.

  1. Hai mba salah kenal,

    Kalau diliat dri lokasinya si SONO ini cluster yg berlambang lebah? Atau depannya si lebah? Kita tetanggaan aku tgl di cluster depannya bunderan si lambang kupu" #halah wkwkwkkwkw

  2. iya, aku di lebah, ih keren deh nebaknya. Aku tau nih mbak Anna di mana, boleh sebut ga ya? yang depannya A kan ya?

  3. Iyaa mba erna yang depannya A hihihi tetanggaan yaa kitaa

  4. tadi nebaknya belum selesai fast reading blognya mbak Anna padahal *berasa keren diri ini ahahahaha*
    Blog nya kok ga diupdate lagi mbak? Pengen baca-baca cerita soal BSD juga nih

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -