Ooo

10 Juni 2014

Duduk diam mendengarkan sambil sesekali menyahut "ooo" itu, tindakan sia-sia gak sih?

Opsi itu yang sering saya pilih kala ada orang yang cerita/curhat yang isinya tidak sesuai preferensi saya. Misalnya ada yang cerita kalau tadi naik bis nunggunya lama banget, jalanan macet. Sesungguhnya jawaban (dalam hati) saya sih, naik kereta lebih cepat. Tapi jawab seperti itu pada orang yang keringetan kelaparan kecapekan abis naik bis, bagai menyiram minyak pada api bukan?

Tapi kadang, itu ga membuat sang pencerita dapat informasi kalau kereta lebih cepat kan? Kadang itu malah membuat sang pencerita merasa "tuh kan, macet kan, erma juga setuju kan kalau macet".

Errr...

Padahal ya, dalam hati saya sudah berapa paragraf reaksi yang keluar. "Ooo" saya itu tadi kan bagaikan abstrak dari jurnal yang berisi:

Ya tadi kan udah disarankan naik kereta, tapi gak mau takut nyasar. Udah dikasih tau bis nya lama, macet tapi katanya "enggak kok, kemaren cepet". Lah terus ini cerita maksudnya buat apah?

Ini antara saya nya mampu menahan diri, dengan saya nya bermuka dua, kok susah ngebedainnya ya?

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -