22 Agustus 2014

Di tahun-tahun terakhir SMU, pada masa perjuangan memilih dan meloloskan diri ke kampus idaman, angka-angka yang selalu terbayang adalah passing grade dan rasio pendaftar berbanding kursi yang tersedia. Saya sudah tidak ingat lagi angka persisnya, maklum 14 tahun yang lalu. Antara yakin bakal diterima dengan gak yakin karena saingannya banyak, silih berganti menclok di kepala. Waktu itu, jurusan yang saya pilih, memiliki passing grade tertinggi untuk kampus kuning itu. Di Depok. Soalnya kalau se-kampus kuning tentu passing grade nomor 1 masih (dan sampai saat ini tetap) Kedokteran dong ya.

18 Agustus 2000.

Hari pertama datang ke kampus kuning sebagai (ehm) mahasiswa baru. Sebelumnya sudah pernah ke sini tapi masih sebagai anak SMU yang sedang berharap bisa diterima UMPTN. Kali ini datang dengan penuh bangga karena merasa berhasil 'mengalahkan' ribuan orang yang juga bercita-cita masuk sini. Setelah daftar ulang di Balairung, kami pun digiring masuk ke dalam balairung. Agak membayangkan ospek massal macam apa ini masak semua mahasiswa baru disuruh masuk bersamaan. Ternyata oh ternyata, kegiatan pertama yang akan dilakukan oleh mahasiswa kampus kuning nan unyu ini adalah bernyanyi. Bukan nyanyi sembarang nyanyi, kami semua dilatih untuk jadi paduan suara yang akan 'tampil' pada wisuda semester genap tahun itu.

Kebayang gak bagaimana melatih paduan suara beranggotakan ratusan orang?

Adalah pak Dibyo (yang kayaknya sampai sekarang masih jadi konduktornya) yang melatih kami semua. Ia membagi para perempuan menjadi 2 golongan, Sopran dan Alto. Pria juga dibagi jadi 2 golongan, Tenor dan Bas. Eh bener gak ya ini istilahnya? Membagi golongannya ya suka-suka sang pemilik suara aja. Saya aja sudah gak ingat dulu masuk ke mana. Beberapa lagu yang masih saya ingat adalah:

Gaudeamus Igitur
Mars UI (lah..ketauan gini nama kampusnya hahaha)
Keroncong Kemayoran
Selamat Datang Pahlawan Muda

Kami lalu tampil perdana di acara wisuda beberapa hari sesudahnya. Latihannya sih cuma 5 hari kalau gak salah. Tapi seharian. Untung bukan bulan puasa. Waktu acara wisuda tahun 2000 ini lah saya pertama kalinya lihat langsung bagaimana acara wisuda. Saat itu, kebaya cantik, sanggul sejak subuh,dan make up 4 tahun sekali jelas tidak terlihat dari tribun atas (tempat kami duduk). Yang terlihat toga hitamnya saja. Tapi yang terekam jelas di ingatan saya adalah: hanya mereka yang lulus cumlaude yang disebutkan namanya. Saya pun bercita-cita lulus cumlaude biar emak bangga gitu dengar nama saya waktu wisuda nanti. Cumlaude kan minimal 3,51 ajah, gampang lah, pikir saya.

Februari 2001.

IPK semester pertama keluar. Tiga koma sebelas. Saya patah hati.

Februari 2005.
Akhirnya lulus. IPK nya berapa? Cuma 3,28 ajah. Bye bye cumlaude. Nama saya tidak akan menggema deh di Balairung.

Beberapa hari lalu ada yang posting youtube wisuda dan paduan suaranya. Ini yang jadi pemicu postingan nostalgia ini. Berasa keren banget gitu wisuda dan dinyanyikan ratusan orang. Saya sih wisudanya semester ganjil, jadi yang nyanyi cuma paduan suara aja. Tapi buat yang belum pernah datang ke wisuda semester genap S1 nya si kampus kuning, yuk dilihat youtube nya. Ini menyanyikan lagi Keroncong Kemayoran (yang menurut saya emang paling enak dinyanyiin), gambarnya memang kurang bagus, tapi suaranya yang paling sedikit 'gangguan' dari non paduan suara. ) gambarnya gak bagus tapi suaranya paling bersih.

Ntar kalau punya anak, disuruh kuliah di kampus kuning aja kali ya, trus disuruh lulus cumlaude, biar saya bisa dengar lagi paduan suara ini hehehe.

4 Responses so far.

  1. suami ku angkatan tahun 2000 jg di kampus kuning ini...dan kagak cumlaude juga..ahahahaha...

  2. eh seangkatan ya sama suami Lis. Susah kan ternyata cumlaude ya kan kan kan *cari temen*

  3. Iya, kalian seangkatan berarti ya :D

    Suamiku Elektro, dirimu fakultas apa?

  4. Aku..Industri :D
    Ampyun, sefakultas berarti. Pasti gak kenal deh, akuh kan pemalu orangnyah :D

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -