21 Agustus 2014

Padahal udah lewat 17 agustusannya ya.

Dulu, waktu belum kenal tv kabel, waktu tv swasta masih sedikit, setiap 17 agustus semua stasiun tv akan menayangkan upacara pengibaran bendera di istana negara, lalu sorenya menayangkan upacara penurunan bendera di tempat yang sama. Saya yang waktu itu masih pakai seragam putih merah terpukau melihat mas dan mbak yang berjalan tegak, baris lurus sekali, yang perempuan rambutnya kompak seleher, dua diantaranya membawa bendera yang diserahkan oleh pak Presiden.

Paskibraka, kata bapak saya. Itu latihannya di Cibubur, sebulan penuh, dilatih ama mas-mas ABRI, setiap provinsi dipilih sepasang perwakilan. Semua itu cerita bapak saya yang saya iya-iyain aja. Lah zaman itu kan belum masanya nge-google. Karena kelihatan keren, sayapun memasang cita-cita jadi anggota Paskibraka.

Masuk SMA, masih menyimpan cita-cita jadi Paskibraka, saya pun tanpa ragu memilih Paskibra sebagai ekstra kurikuler. Latihan demi latihan berpanas-panas. Sayapun bertahan. Beberapa bulan saja. Hahahaha. Kurang persistent amat ya. Bahkan tidak sampai setahun loh. Habis gimana? Sudah rajin-rajin datang latihan, kami malah menanggung hukuman anggota yang tidak datang. Jadi misal tahun itu anggota Paskibra angkatan kami ada 40 orang. Nah setiap kali latihan kan tidak pernah lengkap tuh. Ada yang rajin izin ini itu, ada yang gak dateng aja. Jumlah anggota yang tidak datang ini adalah jumlah squat jump (untuk perempuan) atau push up (untuk laki-laki) yang harus dilakukan oleh anggota yang datang.

Di mana keadilan coba?

Berhubung gak terima disuruh menanggung hukuman untuk tindakan orang lain (eciyeh..bahasanya), sayapun ikutan menghilang. Terus-terusan. Dan dengan demikian hanguslah cita-cita jalan tegak, baris lurus, membawa bendera yang diserahkan oleh pak Presiden.

Gambar dicopy dari Wiki.

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -