13 Desember 2014

Sejak suami memutuskan ikut Konferensi di JOG itu, istri sudah ribut nanya naik apa nih naik apa nih naik apa nih. Cita-citanya sih road trip gitu naik si Oren, tapi kalau cuma lima hari itupun udah nyolong hari kerja, kok ya rasanya mepet bener. Udah gitu, si Orennya kata Suami masih perlu diginiin lah digituin lah, sebelum bisa dibawa road trip. Okelah, lain kali kalau gitu road tripnya. Konferensinya ada di hari Rabu-Kamis, suami ngajak berangkat Senin pulang Jumat.

"Kemarin ribut naik kereta yuk, ke JOG nya kita naik kereta aja ya", titah suami.

Istri nurut aja, udah keburu gembira diajak jalan-jalan.

Ngebandingin tiket pesawat vs kereta juga masih untung sekitar 200ribuan, lumayan kan buat beli daster.

Pesan tiket kereta bisa online loh. Ahahahahaha baru nyoba sekarang. Norak bener. Kami pesan sekitar seminggu sebelum berangkat dan dapat di harga Rp 360.000,-/orang untuk Argo Lawu Gambir-Solo. Aslinya ada pilihan harga Rp 305.000,- juga yang tentunya sudah sold out duluan. Bisa pilih gerbong dan kursi juga (yang masih tersedia).

Dan bisa cetak tiket sendiri di stasiun.


Tinggal masukin no tiket, bisa cetak sendiri. Ihiy asiknya.

Karena kami berangkat Senin pagi, sempat bimbangjuga bagaimana metode sampai ke stasiun dari rumah yang di Bintaro Sonoan Dikit itu. Naik CommuterLine sampai Tanah Abang lalu sambung bajaj adalah opsi termurah. Tapi Senin pagi naik kereta ke Jakarta? Alamak....gak berani kitah. Gimana coba penuhnya. Naik taksi sampai stasiun adalah opsi terpraktis. Tapi taksian lebih dari 20km, abis berapa itu argonya, belum tolnya. Alamak...gak sudilah kita. Akhirnya kami gunakan opsi combo. Naik mobil sampai kantor (suami) di Gatsu, mobil diparkir (nginap) di sana, sebelumnya bayar tiket langganan buat Desember dong, biar gak puyeng bayar parkir 5 hari 4 malam. Dari kantor baru naik taksi sampai stasiun. Gatsu - Gambir aja sudah 45 ribu. Gimana kalau dari Bintaro Sonoan Dikit coba?!

Berangkat dari rumah jam 5.15 sampai di Gambir jam 7. Di jalan ngeliat bapak ibu berbatik biru mengarah ke Monas. Mau upacara kali ya? Sampai di Gambir, biasalah puyeng lagi, puyeng milih mau sarapan apa hahahaha. Dasar lapar mata, liat KFC pengen, liat Kopitiam pengen, liat Dunkin pengen, suami bahkan liat restoran padang juga pengen ck ck ck. Padahal kalau di rumah gak pernah sarapan. Ya gimana sarapan, bangun aja udah jam 9.

Akhirnya sarapan di KFC aja. Lalu puyeng tahap dua, ini makan siangnya gimana? Jadwal sampai JOG jam 15.40, mau makan bekal dari sini, makan beli di kereta, apa makan siang kesorean di JOG ajah. Berhubung mutusin sarapan aja sudah 15 menit sendiri, akhirnya diputuskan makan siang di kereta aja, kalau gak ada yang menimbulkan selera, ya makan di JOG aja.

Kereta nya datang terlambat sekitar 20 menit, jadi berangkatnya juga terlambat 30 menitan. Leg room nya lebih lapang daripada pesawat, tapi per kursinya mulai bunyi krit krit gitu. Tapi gerbong bersih, dan ada petugas yang wara wiri (sekitar sejam sekali) bawa plastik sampah untuk mengangkut sampah penumpang. Di kereta gak ada aturan "gak boleh bawa makanan dan minuman dari luar" ya, jadi ya bebas aja ternyata bawa bekal apapun. Di setiap baris ada 2 colokan listrik, lokasinya di bawah meja, di sisi dinding kereta. Mejanya imut, cuma cukup ditaruh 2 botol minum. Toiletnya jongkok. Suami ke toilet belakang yang ternyata agak becek, jadi saya ke toilet depan yang alhamdulillah lebih kering. Ingat, toilet hanya bisa dipakai ketika kereta sedang berjalan ya.

Sekita jam 1 akhirnya kami melapar. Pilihan menunya gak banyak (dan gak sempat foto pula). Suami pesan bistik daging, yang so so lah rasanya, sementara saya pesan nasi goreng yang juga standar rasanya. Standar tapi abis. Ya lapar gitu ahahahaha.

Sekitar jam 4 kami akhirnya sampai di stasiun Tugu. Stasiun Tugu ini yang ada di ujung jalan Malioboro itu, jadi sebenarnya sudah di tengah kota ya. Setelah timbang-timbang mau naik Trans Jogja, taksi, becak, atau jalan kaki (iya, 5 km diajak jalan aja sama si suami), akhirnya kami putuskan untuk naik....

Becak

Motor

Maksudnya becak yang dimodifikasi sehingga gak perlu dikayuh, karena ada kepalanya motor sebagai penggantinya. Saya kok lupa ya bayarnya 35 ribu atau 40 ribu. Sudah nanya counter taksi resmi di stasiun, ke daerah Gejayan (tempat hotel kami) harganya Rp 80.000,- dan di luar supir taksi minta Rp 70.000,-

Lanjutanya di posting berikutnya ya (semoga gak lama-lama).

Sebagai penutup, mari kita pandangi pipi saya yang secara ajaib tidak tampak tembem-tembem amat disini ahahahaha. Halus ya pipinya (dih muji diri sendiri), Tapi oh tapi hidungku tampak berlubang-lubang gitu. Gak papa lah. Jangan terlalu sempurna juga kali.

*kemudian pembaca buru-buru klik tanda x di kanan atas*


2 Responses so far.

  1. Wah sayang sekali bawa mobil, padahal kalo dari rumah berangkat jam 6 kurang itu kereta masih lega loh. Seriusan. Pernah beberapa kali soalnya. Tapi seru sih ya emang jalan nyambung-nyambung gini. Hihihi.
    Kalo taksi dari daerah rumah kita mah sekitaran 200an.

  2. tapi pake mikir juga jalan ke stasiunnya naik apa kan? Wih mahal juga ya naksinya *medit*

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -