23 Desember 2014

Mungkin karena sudah cukup lama tidak lama menonton film 'cinta-cintaan', mungkin karena pas ada waktu kosong untuk nonton film sendirian, mungkin karena kemakan tweet Ika Natassa yang bilang "having said all of these, aku harus mengakui ini: the movie was brilliant, exceeding my expectations on so many level" (@ikanatassa, 8 Desember), di suatu Kamis sore, di Kuningan City, seorang diri saya menonton Supernova.

Fans Dee pasti sudah tau isi cerita Supernova KPBJ. Untuk yang kebetulan belum tau ceritanya karena belum baca bukunya (yang terbit pertama kali tahun 2000) atau seperti saya yang sudah baca tapi sudah lupa isinya, ini garis besar cerita Supernova KPBJ:

Ruben dan Dhimas, sepasang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Amerika bertemu tak sengaja di Washington, lanjut party bareng di sebuah apartemen milik kawan Dhimas, mereka berdua merasakan 'badai serotonin' pertamanya. Dalam pengaruh serotonin itulah mereka berdua berjanji untuk membuat satu masterpiece. Satu tulisan atau riset yang membantu menjembatani semua percabangan sains untuk Ruben. Roman berdimensi luas yang mampu menggerakkan banyak orang untuk Dhimas. pertemuan. Loncat ke 10 tahun kemudian, di Jakarta, pasangan ini memulai pembuatan masterpiece mereka berdua. Sebuah roman sains, yang romantis, sekaligus puitis.

Cerita Ruben dan Dhimas ini dibangun berdasarkan kisah favorit Dhimas di masa kecilnya. Dongeng tentang Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Dongeng ini di'bumikan' dengan tokoh dan problematika manusia zaman sekarang.

Alkisah Ferre, high quality jomblo (muda, pekerjaan mentereng, rumah kinclong, wajah ganteng, lulusan Amerika), jatuh cinta pada Rana (muda, wapemred majalah ibukota, cantiknya kebangetan, bersuami).

Ada juga tokoh sentral lainnya, Diva. Model merangkap pelacur dengan tarif $1500. Selain pekerjaan dan rumah yang sama menterengnya dengan Ferre, tidak ada cerita latar belakang Diva yang disebutkan.

Apa hubungan Diva dengan Ferre-Rana?

Apakah Ferre bertepuk sebelah tangan?

Bagaimana dengan suami Rana, yang by the way baik, sabar, ganteng, muda, kaya, keluarga ningrat?

Sambil belajar bikin review tanpa spoiler (toh yang sudah baca bukunya juga tau isi cerita yang hampir sama dengan film), buat saya ini film tentang cinta-selingkuh-patah hati dengan pemain yang indah dipandang dan gambar yang aduhai cantik-cantik banget.

Meski sudah baca bukunya, saya sudah lupa isinya. Namun film ini masih bisa dinikmati oleh orang yang tidak tau isi bukunya sama sekali. Ceritanya runut dan masuk akal, jadi gak akan ada "lah kok gitu?" atau komentar heran atau bingung lainnya. Saking masuk akalnya, endingnya tergolong mudah diduga. Gak ada unsur kagetnya sama sekali. Itu untuk ceritanya.

Lain urusannya dengan gambarnya. Mayoritas scene di film ini berisi gambar zoom pemeran utamanya. Arifin Putra, Hamish Daud, Herjunot Ali, Raline Shah, Fedi Nuril, Paula Verhoeven. Aktingnya pada bagus disini, jadi gak ada keliatan kaku baca skrip meski kadang dialognya panjang dan ilmiah banget. Saya suka scene model begini. Paling males kalau lihat pemeran pembantu atau bahkan figuran yang aktingnya seadanya, jadi jomplang ama pemeran utamanya. Paling adegan party di awal aja yang keliatan figurannya, sisanya ya nontonin lima orang itu.

Arifin Putra, ya gitu deh.

Hamish Daud, hilang macho dan bad boy nya, jadi melambai tapi gak berlebihan. Sempat disorakin penonton wanita sih pas pandang-pandangan mesra ama Arifin Putra. Mungkin mbak-mbak ini patah hati hahahaha.

Herjunot Ali, cakep lah mainnya. Menurut saya sih terlalu kinclong untuk high quality jomblo. Tampangnya ya. Aktingnya mah bagus.

Raline Shah, cantik amat sih mbak... Ya ampun. Ya maaf kalau saya sewot, lah dia mukanya mulus, badannya langsing, rambutnya panjang tapi gak pernah kegerahan, bajunya bagus-bagus, lah kita???

Fedi Nuril, ya gitu deh.

Ya gitu deh maksudnya bukan mengecewakan ya, tapi ya udah diterima aja. Bagus sih mainnya, tapi saya gak ada komentar lainnya. Jadi ya gitu deh.

Jadi, buat yang mau nonton, puas-puasin deh ngeliat pemainnya. Yang perempuan, puas deh tuh mandangin empat pemeran prianya. Yang laki, dua aja cukup lah. Raline nya juga kebangetan gitu kok cantiknya *masih gak terima*. Puas-puasin juga liat gambarnya ya. Kalau saya sih sambil ampun-ampunan.

Ya ampun, enak kali ya kalau ruangan kerja kayak punya Ferre gitu. Nasib, kantor terakhir ukuran 3x3 meter buat berempat.

Ya ampun, enak kali ya punya rumah kayak Ferre atau Ruben-Dhimas atau Diva. Nasib, rumah 80m persegi aja masih bingung naruh baju setengah kering di mana.

Ya ampun, cakep amat sih hotelnya di Bali. Nasib, ke Bali urusan kantor, Sanur lagi Sanur lagi.

Ya ampun, enak kali ya naik kapal berdua peluk-pelukan gitu. Nasib, disuruh loncat pake safety jacket di Kep.Seribu aja uda ngeri.

Ya ampun, Jakarta kok bisa keliatan damai, teduh, cantik di film ini. Pas saya keluar rumah kok macet, panas, silau, kemudian hujan lalu macet. Tau-tau jam 11 baru sampai rumah.

Selamat menonton. Saya akan lanjut baca ulang bukunya deh, biar ngerti.

Bonusnya saya pasang foto Raline Shah pake jilbab ya. Kok masih cakep aja sih mbak *penonton sewot*

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -