08 Januari 2015

Kemarin malam, di masjid salah satu Mall di Blok M, saya duduk manis bermukena. Azan Isya sedang berkumandang. Shaf 1 yang saya duduki lumayan kosong. Seorang wanita meletakkan pashmina dan sepasang mukena di samping kiri saya.

"Titip ya mbak!" ujarnya. Saya mengiyakan.

Tak sampai semenit kemudian, datang wanita lain, duduk di samping mukena tadi.

"Kosong ya?", tanyanya.

"Ada kok bu, lagi wudhu orangnya".

"Ditaruh disini aja deh", lanjut dia. Ditaruhlah pashmina dan mukena itu di shaf 2, di belakang saya, agak ke kanan. Rasanya sih wanita ini dengar jawaban saya. Tapi saya juga bingung buat apa dia pindahin pashmina dan mukena itu. Shaf 1 juga masih lapang. Bingung tapi ngebatin doang sayanya. Dugaan saya sih dia mau menjaga shafnya rapat, khawatir pemilik pashmina mukena belum kembali ketika solat akan mulai.

Lalu datang dong wanita pertama pemilik pashmina. Mungkin bingung liat barangnya tidak ada di tempatnya, dia tanya lagi. Nanyanya ya ke saya.

"Punya saya tadi mana mbak?"

"Ini bu", saya nunjuk ke belakang kanan.

"Ih kok dilempar? Kan saya udah titip", nadanya agak kesal.

Agak defensif tapi sok lembut, saya jawab, "gak dilempar kok bu, dipindahin aja".

Wanita yang memindahkan pashmina dan mukena itu kemudian menggeser dirinya agak ke kiri, menghasilkan ruang yang cukup untuk 1 orang di shaf 1 dan bilang "masih muat bu di depan, mari sini".

Tapi sepertinya wanita pertama sudah tidak selera.

Kemudian saya bingung. Galau. Emang harusnya saya gimana ya tadi?

Waktu cerita ke suami, dia bilang "mungkin wanita itu berasumsi lo akan me-reserve posisinya".

Kembali defensif, saya jawab "lah kan gue udah jawab juga ke yang mindahin bahwa ini ada yang punya. Bukannya itu aja ya tugas gue? Dan kalau tujuannya adalah solat di shaf 1, kesempatan itu masih ada kok ketika ada yang bergeser ke kiri".

Iya tau, defensif terlambat juga sayanya.

Tapi asli, saya bingung. Harusnya gimana sih tadi?

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -