23 Februari 2015

Suatu hari di tahun 2009, saya dan dua teman kantor pergi bayar sendiri ke Jogja. Niatnya untuk menghadiri pernikahan salah seorang teman kantor juga. Ia rencananya akan menikah di Salatiga.

Lah kok perginya ke Jogja?

Ya karena kami niat naik mobil berempat dengan seorang teman kami lainnya yang tinggal di Jogja. Sekitar satu minggu sebelum jadwal keberangkatan kami, sang calon pengantin mengabari kalau "karena hambatan administratif, kami belum bisa menikah pada tanggal yang kami rencanakan. Mohon maaf untuk teman-teman".

Wih, skandal.

Tapi kami tetap berangkat. Habis, tiket sudah dibayar. Cuti sudah disetujui bos. Ganti haluan jadi jalan-jalan riang gembira deh di Jogja. Teman kami yang tinggal di Jogja itu, sebut saja namanya mbak Jen, membawa kami makan mangut Lele. Saya yang baru saja belajar makan ikan dan bisanya cuma makan ikan Lele dan Dori agak enggan. Tapi mbak Jen meyakinkan kami bahwa ada lauk lainnya yang bisa saya makan kalau saya memang benar gak suka Lele nya. Ya sudah, bermodal setia kawan, pergilah kami ke belakang kampus ISI itu. Dan ternyata di sana, saya yang ngakunya gak suka makan ikan itu, habis Lele dua ekor. Teman saya yang lain bisa sampai 3 ekor loh.

Lele nya dimasak dengan cara diasap berjam-jam, jadi bumbunya meresap ke seluruh bagian Lele. Sudah gak berasa ikan nya sama sekali. "Berasa ikan" ini terminologi saya pribadi ya, yang artinya berasa amis dan tertolak oleh kerongkongan saya. Saking sukanya, kami sampai bela-belain bungkus dan bawa ke Jakarta.

Di Jakarta, saya terus-terusan seperti kaset rusak, bilang ke suami kalau mangut Lele nya enak banget, pengen lagi, pokoknya kalau ke Jogja harus kudu musti makan Lele itu. Gudeg sih ada di Jakarta, Bakmi Jogja juga ada, tapi mangut Lele belum pernah saya temui.

Jadilah, semenjak jadwal konferensi disampaikan, saya ulang-ulang lagi dong soal mangut Lele nya.

"Pokoknya harus ada makan mangut Lele nya ya", titah sang istri. Saya maksudnya.

Saya brief dulu suami soal jalan masuknya yang dipinggir sawah, soal parkirnya yang numpang di halaman orang, soal makannya yang di rumah si mbah yang sederhana, soal tempat cuci tangannya yang di sumur. Ya biar gak ilfeel aja gitu si suami. Untungnya doktrin ini diterima dengan sukarela aja sama suami.

Karena hampir lupa arahnya, saya browsing dong arah ke sana. Duh, senangnya zaman blog, semua orang pada murah hati ngasih informasi. Saya dapat petunjuk arah cukup detil di blog Hennpuspita ini.

Saya salin ya deskripsi arahnya:

Darimanapun anda ambillah jalan menuju jl. Parangtritis, terus keselatan sampai ketemu perempatan (traffic light) ringroad masih terus ke selatan terus aja sampai di km 6,5 kanan jalan ada kampus ISI (Institut Seni Indonesia) masih lurus terus sampai di kiri jalan ketemu Kantor POS Sewon tepat di seberangnya ada jalan kecil anda masuk saja (belok kanan) terus saja sampai ketemu tikungan ke kanan tepat setelah tikungan (kira-kira 10 meter) ada gang kecil di kiri jalan anda masuk saja. Lurus dari gang kecil itu ada masjid terus belok ke kiri, lurus dikit kira-kira 10-15 meter ada belokan ke kiri masuk situ. Biasanya kalau datang pas jam makan siang di gang ini sudah dipenuhi mobil-mobil yang sudah parkir (jalan ini kecil sekali, jadi susah sekali kalau buat simpangan sama mobil lain) jadi pintar-pintarlah mengatur waktu kedatangan anda supaya bisa dapat tempat parkir yang tidak terlalu jauh dari warung Mbah Marto ini. Dan jangan kaget juga kalau mobil yang banyak terparkir disini rata-rata ber plat luar Jogja karena memang penggemar dari warung Mbah Marto ini banyak dari luar kota dan dari berbagai kalangan.

Lha mana warungnya kok nggak keliatan? Kok cuma keliatan mobil-mobil parkir aja, orang-orangnya pada dimana ya? Jangan takut, kalau anda sudah masuk ke gang ini berarti anda sudah dekat dengan warung Mbah Marto, warungnya sendiri memang tidak di pinggir jalan ini persis. Kita masih harus berjalan kaki melewati rumah penduduk untuk menuju ke warung ini, jika Anda bingung tanya saja dengan penduduk sini pasti semuanya tahu.

Deskripsi ini membawa saya ke tempat tujuan.


Rumahnya, gelapnya dan sumurnya, mengingatkan ke rumah almarhum mbah saya di kampung.

Dulu mbak Jen cerita kalau awalnya mbah Marto ini membawa jualan nasi sayur dan lauk ke kampus ISI, tempat salah satu cucunya kuliah. Karena sudah menua beliau tidak lagi jalan membawa dagangannya, eh para mahasiswanya mencari. Atas usul sang cucu, akhirnya mbah Marto jualan di rumahnya saja. Sekarang pembeli yang mendatanginya.

Oya, kalau tahun 2009 dulu cuma ada mbah Marto ini, kemarin saya ke sana (Desember 2014) ada warung mangut Lele juga di depannya. Punya cucunya. Entah cucu yang kuliah di ISI itu atau bukan.


Meski ada gudeg dan bermacam lauk pauk di dapurnya mbah Marto, saya sih setia ambil Lele nya. Nasi putih dengan Lele, tambah kerupuk, minumnya teh manis panas.

ENAK BANGET.

Bahagia gimana gitu akhirnya sampai juga ke sini lagi, sama suami. Bayangin, 5 tahun loh nunggunya. Ahay...lebaynya.

Suami gimana? Doyan gak?


Suami saya sodara-sodara, tetep dong, makan Lele pakai sendok dan garpu. Ahahahahahahahahahaha.

Tapi kata dia enak kok. Gak nyesel dengerin kaset rusak istrinya yang diulang-ulang terus mau makan Lele.

Terima kasih ya suami.

Kapan nih ke Jogja lagi?

4 Responses so far.

  1. Aku gak bisa makan lele, sama seperti gak bisa makan bebek. Bukan karena rasanya, tapi karena bentuknya...aneh mmg aku ini :D

  2. Berarti kalau uda di fillet, bisa Lis? Kan uda ga keliatan bentuknya hehehe

  3. keblug says:

    hahaha mangan lele sama sendok garpu!? classy biuti deh.

  4. Laki gue, ladies and gentleman :)

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -