10 Mei 2015


Kembali lagi ke episode kunjungan ke Fatmawati. Bapak mertua masuk rumah sakit lagi. Sesungguhnya saya tidak layak bilang ini 'ujian' buat saya, secara dampak ke saya tergolong dampak sekunder saja. Beliau masih punya istri, dua anak, dua kakak, dua menantu, 3 cucu, dan sederet saudara lainnya yang bahu-membahu. Namun buat saya, rumah sakit tidak pernah jadi tempat yang saya suka. Terlalu banyak kesusahan, kesedihan, kesakitan, kepanasan, kelelahan, kebingungan, dan hal-hal lain yang sungguh tidak bisa dinikmati.

Siang itu, seperti beberapa kali opname sebelumnya, kami masuk via IGD. IGD rumah sakit ini sedang direnovasi dan sementara menggunakan gedung akademi perawat. Siang itu, panas sekali. Banyak orang menunggu di ruang tunggu yang super panas dan silau. Saya tidak pernah suka disini, dengan hilir mudik kendaraan yang menurunkan orang sakit, kumpulan wajah-wajah kelelahan para penunggunya. Tapi sudah demikian keadaannya, dijalani saja kan.

Setelah mempersilakan suami untuk solat Asar duluan, saya pun gantian solat Asar, berniat untuk berdiam sejenak di masjidnya, mendinginkan kepala, mendinginkan badan, mendinginkan hati, sambil bertanya padaNYA "duh, kok lagi sih ya Allah?".

Belum lama saya mendinginkan, seorang ibu tampak menurunan anaknya dari gendongannya, kemudian duduk tidak jauh di samping saya.. Anaknya sudah cukup besar untuk digendong. Saya duga usianya di atas 10 tahun. Kaki sang anak dibalut perban. Mungkin itu sebabnya dia digendong, pikir saya. Ibu itu kemudian bertanya pada saya, siapa yang sakit, sakit apa, sejak kapan, khas pertanyaan di rumah sakit. Saya sesungguhnya tidak suka mengajukan pertanyaan seperti ini, karena ujungnya pasti dengar cerita sakit-sakitnya orang. Ya, namanya juga di rumah sakit. Isinya orang sakit. Namun karena sudah ditanya (dan sudah menjawab), saya bertanya kembali pada si ibu.

"Siapa yang sakit bu?"

Kemudian meluncurlah cerita si ibu. Anak lelakinya ini, yang tadi digendongnya, punya tumor di balakang pinggangnya, lalu kakinya luka dan bonyok (sebagai akibat sekunder dari tumor itu). Saya ulang ya, saya sebenarnya tidak suka mengorek lebih dalam dan detil cerita penyakit orang, karena ujung-ujungnya saya jadi pening sendiri, tapi sepertinya bagi ibu ini, cerita detil sudah biasa diungkapnya. Atau mungkin juga untuknya, bercerita meringankan hatinya. Jika demikian, saya siap menyumbang telinga untuk mendengarkan.

Ibu ini melanjutkan ceritanya. Ia tinggal di Bekasi, dan untuk mencapai rumah sakit ini dia harus ganti angkutan 3 kali, sambil menggendong si anak. Taksi? Wah itu terlalu mahal untuknya. Anak ini berusia 14 tahun, dan pada kunjungan terakhir ini dia dirujuk ke RS Dharmais. Rumah Sakit Kanker Dharmais. Ya Allah, saya dengernya aja mau nangis, tapi si ibu lempeng aja ceritanya. "Mudah-mudahan di sana bisa diobatin mbak", kata dia. Sungguh optimis. Ibu ini adalah orang tua tunggal, karena suaminya baru meninggal 3 bulan lalu. Duh, saya lagi-lagi mau kabur denger ceritanya, tapi lag-lagi saya ingatkan diri sendiri, ini untuk si ibu bukan untuk saya. Ia bekerja sebagai tukang urut dan kerok, iya kerokan yang orang sakit masuk angin itu. "Untungnya" pakai BPJS dia tidak perlu keluar biaya untuk berobat. Untuk berobat aja ya, karena untuk ongkos ke rumah sakit, beli minum, jajan di jalan, semua ya harus ditanggung sendiri. Begini saja, dia masih bisa bilang "untung". Sungguh tegar.

Si ibu sudah siap melanjutkan perjalanan panjang pulang ke Bekasi di sore hari kerja (macet kan pastinya). Saya pun siap kembali ke ruang tunggu IGD.

Sungguh saya berasa kayak ditoyor kanan kiri saat dengar ceritanya. Saya, yang sudah siap mengadu, kecewa, minta, sambil meratap "kenapa begini, kenapa begitu, kenapa lagi, kenapa sekarang, kan udah gini, kan udah gitu, kan mau gini, kan mau gitu, kenapa, kenapa, kenapa," seakan ditoyor, ditampar, untuk melihat sungguh ini tidak seberapa dibanding keadaan di luar sana.

Saya tidak bilang bahwa kesusahan bisa diukur kadarnya. Bahwa kalau ada kesusahan yang jauh lebih besar di luar sana, maka kita gak boleh mengeluh. Namanya manusia, setiap dapat kesusahan tentunya saya merasa ini beraaaat sekali, sudah paling berat sedunia pokoknya. Tapi bukan sekali ini saya ditemukan pada keadaan yang memaksa saya berhenti (sesaat) untuk mengeluh. Untuk menghitung berkah. Untuk tidak lupa bersyukur untuk nikmat yang telah (dan sedang) diperoleh, meski sedang kesusahan. Saya percaya, ada hikmah pada setiap kejadian.

Sekarang, jalani saja.

3 Responses so far.

  1. Semangat Mbak Erma. Semoga mertuanya cepet sembuh ya. Dalem renungannya.

  2. Aku juga gak suka rumah sakit....kayaknya yang suka sama rumah sakit cuma dokter, perawat, dan para karyawannya kali ya, ya secara itu tempat kerja mereka kan :D

    Semoga mertuanya lekas sembuh yaaa....Setuju, mari dijalani saja semua bagian yang sedang harus dijalani skrg ini, percaya dalam setiap kesulitan pasti tangan Tuhan menolong..

  3. Dani dan Lisa. Amin... makasih ya doanya

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -