06 Agustus 2015

Seperti sudah diberitakan di post ini, akhirnya lebaran ini saya menelan kembali ucapan saya “never ever mudik lebaran naik mobil lagi. Ogah!” hanya tiga tahun berselang. Dengan iming-iming mudik gratis (karena si Om pemilik mobil yang akan mengisi bensin dan bayar tol) saya pun mendapat restu untuk mudik lagi.

Perjalanan berangkat 30 jam sudah termasuk berhenti sholat, makan tengah malam alias sahur, tidur 3 jam di rest area Tegal, ngademin AC yang ngadat selama 30 menit, mandi sore di masjid di Tegal, dan makan malam kira-kira 1 jam di Batang. Perjalanan pulang 24 jam sudah termasuk makan malam di entah saya lupa daerahnya, selonjoran 1 jam di Salatiga, dan makan siang di Purwakarta.

Kapok lagi? Tentu. Ampun pegel kaki badan dan kepala. Tapi ya malu dong ah ngeluh pegel padahal si adik yang nyetir tak bergantian saja tak berkeluh kesah. Jadi, mudik lagi lain kali? Mudah-mudahan ada kesempatan lagi. Dengan perjalanan yang lebih manusiawi. Mana “Aamiin” nya pembaca?!

Setelah beberapa kali mempertanyakan pada diri sendiri, saya ini mudik buat apa sih? Buat siapa sih? Toh orang tua gak ada, adik satu kota, tradisi pun tidak. Tapi tahun ini rasanya saya tahu kenapa saya mudik:

Agar saya bisa memandang para Bu lek dan Pak lek adik-adik bapak, mencari potongan kemiripan mereka dengan beliau, dan sedikit mengobati rindu pada beliau.

Agar saya bisa memandangi para tante dan om adik-adik ibu, mencari potongan kemiripan mereka dengan beliau, dan sedikit mengobati rindu pada beliau.

Rasanya sama juga dengan mereka. Mereka (para saudara-saudara tua di kampung sana) juga memandang kepingan kemiripan saya dan adik dengan bapak dan ibu kami, tentu juga sedikit mengobati rindu mereka pada kedua orang tua saya.

Tak ayal, ada beberapa momen menye-menye dimana saya menghela nafas, menahan mulut bersuara “andai...”. Karena sungguh saya tak pernah berminat mengandaikan hal yang tak mungkin terjadi. Bukankah takdir Allah adalah yang terbaik?

Saya menemukan bahwa para tante masih memajang foto waktu saya dan adik kecil nan imut, di dinding rumah kakek-nenek (yang kini dihuni salah satu tante kami). Ini agak lucu karena foto-foto para sepupu (yang tinggal di rumah itu) saja sudah turun dari dinding. Para Bu lek juga memajang foto nikahan saya di lemari rumah kakek-nenek (yang kini dihuni oleh para Bu lek). Tentu, foto lain yang terpajang hanya foto almarhum kakek-nenek kami. Adik saya punya cerita lebih lucu lagi, saat mengantar para tante, om, dan mbah ke rumah salah satu saudara, ia mendapati ada foto wisuda saya di rumahnya. Di sana berdampingan, saya-adik-om. Ini sungguh lucu karena saya sendiri tidak pernah memajang foto di rumah. Mari anggap saja mereka tidak bisa menemui kami sesering yang mereka inginkan, sehingga mereka mengobati keinginan (tak sampai) itu melalui foto-foto tersebut.

Ini foto waktu kami kecil nan imut. Lupa lokasinya, tapi secara saya masih pakai seragam TK, jadi dugaan saya kalau gak Ancol, Taman Mini, atau Taman Safari. Lokasi karyawisata wajib anak TK tempo doeloe.


Saya sih masih menyimpan cita-cita road trip dengan mobil bersama suami yang berujung dengan mudik. Berhenti di beberapa kota, menginap, jajan. Tapi tentu bukan lebaran waktunya. Mudah-mudahan ada kesempatan untuk melakukannya. Someday...

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -