15 Desember 2015

Dari rumah, ada dua pasar yang berada pada jarak manusiawi untuk dikunjungi. Kedua pasar ini berbeda karakter, yang satu pasar modern lainnya pasar tradisional. Pasar tradisional lebih dekat, lebih murah, dan lebih cepat dicapai oleh saya. Sekitar 2km jaraknya dari rumah, sekali angkot, Rp 3000,- Meski begitu, saya lebih sering ke pasar modern, yang berjarak 7km, dua kali angkot, total Rp 6000,-

Kenapa?

Karena suami suka nemenin ke pasar. Pasar modern tapinya. Kalau istri-istri lain mengeluhkan suaminya tidak suka nemenin belanja, suami saya ini senang diajak belanja, bahkan kalau belanja nya ke pasar. Asal pasarnya modern ya. Dan namanya modern, ini pasar memang sungguh nyaman didatangi, hanya beda tipis lah dengan supermarket. Lorong-lorongnya lebar, lauk, sayur, kue, dan aneka dagangan lainnya tertata rapi boleh dipilih. Harga? Ada fasilitas, yang bayar siapa? Ya yang beli dan yang jual dong. Wajar aja sih buat saya kalau harga di kedua pasar ini berbeda. Memangnya yang menjaga lantai tetap kering dipasar siapa? Memangnya yang merapikan dagangan dan menyortir lembaran sayur yang sudah layu siapa?

Ibu mertua, kebalikan dengan suami. Ia sungguh ngefans dengan pasar tradisionalnya. Meski sudah pernah kami ajak ke pasar modern, ia nyaris selalu menolak beli apapun disana. Mahal, jawabnya. Sedang di pasar tradisional, ia bisa dapat banyak barang belanjaan, puas nawar, dan sangat puas dapat harga yang masih lebih murah dari Pasar Minggu dan Pasar Pondok Labu. Kedua pasar tersebut adalah pasar terdekat dari rumah mertua.

Saya gimana? Tergantung keadaan aja sih. Kalau diantar suami, ya piknik nya ke Pasar Modern. Kalau mau murah meriah, gak masalah ke Pasar Tradisional. Soal kunjungan ke pasar ini, masing-masing punya cerita menggelikan buat saya.

Suatu hari, saya ke Pasar Modern hanya diantar oleh suami, ia langsung berangkat kerja. Pulangnya, karena merasa belanjaan agak banyak, saya coba naik ojek (biasanya naik angkot). Di jalan, obrolan ini berlangsung:

Ojek: Udah lama tinggal di xxx Teh? (dia sebut nama komplek rumah yang kami tinggali, dan disini manggilnya bukan Mbak biasanya, tapi Teh)

Saya : Baru beberapa bulan kok

O : Sebelumnya di mana?

S : Bintaro (terlalu jujur kayanya saya, bahaya buat stalker, kalau jadi artis)

O : Dari Yayasan mana? 

S : Hah? Gimana?

O : Saya sering juga nganter ke xxx, kan banyak yang ambil dari Yayasan di depan Pasar Modern itu

S : Ngambil apa bang?

O : Si Teteh megang bayi, orang tua, apa rumah?

S : *ngakak dalam hati*

Oh.
Aku.
Dikira.
ART.
Atau Babysitter.

Pas cerita ini ke suami, dia ngakak juga, tapi gak dalam hati. Makasih loh ya suami. Apa saya kurang beres ya dandannya? Lah wong ke Pasar doang gitu loh.

Satu lagi cerita pas ke Pasar Tradisional, tapi obrolannya lebih singkat karena saya udah lebih ‘pintar’ memahami maksudnya. Saat itu saya sudah selesai belanja, baru sekitar jam 7 pagi kayaknya. Mencangklong tas berisi wortel, brokoli, bawang, jagung, cumi, buncis, emping (semua tak tampak, karena masuk tas) dan menenteng plastik berisi ketupat sayur (matang) dan buah (melon mini dan buah naga). Saya berhentikan angkot dan naik di kursi depan, yang samping supir itu loh. Setelah duduk dengan rapi, dan menutup pintu, supir nanya:

Masih ada karungnya di luar Teh? 

Eaaaaa kali ini saya dikira belanja sayur berkarung-karung.

2 Responses so far.

  1. Hahahaha..itu tukang ojegnya sembarangan banget nanyanya :D

    Kalo aku ke pasar mana aja hayo, ke pasar tradisional yang becek2 juga gpp, dan untungnya suami mau2 aja nemenin meski ke tempat yang becek2 :D

  2. antara pengen ketawa ama noyor pas dengernya Lis ahahahaha

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -