26 Februari 2016

Buat sebagian besar orang, sambal adalah pembuat nafsu makan. Ada yang bilang, selama sambalnya enak, lauk dan sayur apapun jadi lahap makannya. Saya tidak suka sambal. Jadi, buat saya, justru sambal bikin makan gak lahap.

'Sambal' buat saya, adalah kerupuk.

Makan dengan lauk apapun, jadi terangkat beberapa derajat level kelezatannya, kalau dilengkapi dengan kerupuk. Gak sampai harus banget ada kerupuk di setiap sesi makan sih, tanpa kerupuk aja badan gak kunjung kurus gini. Eh, kurus kan karena olahraga kan ya? Bukan karena makan kan ya? Buktinya, makan saya sudah dikit ini, tapi kurus mana kurus?

*disenggol sepeda

*dan disambit sepatu jogging

Entah apa dan kapan asal muasalnya, saya jadi suka sekali dengan emping. Ini kerupuk yang rasanya gak bikin bosen, bahkan dengan 'iming-iming' asam urat. Dulu ibu saya meski cukup sering menggoreng kerupuk, emping tergolong jarang muncul di dapur kami. Harganya tergolong mahal. Yang sering muncul tentu kerupuk bawang (kerupuk putih dengan pinggiran warna-warni), kerupuk udang (kalau dapat oleh-oleh), atau kerupuk beli matang yang plastikan warna coklat itu, entah apa namanya. Emping muncul di hari lebaran. Afdol sekali rasanya makan ketupat dengan emping. Padahal masak ketupatnya juga jarang banget di rumah, umumnya pesan 20 buah saja dan ibu masak sayur dan lauknya sendiri.

Begitu punya uang sendiri, dalam sesi makan di luar, begitu terlihat emping di meja, maka saya hampir pasti akan mendatangi. Si emping. Mau itu makan soto, mi goreng, warteg, makanan padang, apa aja cocok sama emping, prinsip saya.

Dalam episode-episode ngedapur, saya awalnya kurang minat untuk menggoreng aneka kerupuk sendiri.

Buat apa? Beli juga murah. Lagipula, keluarga kecil bahagia sejahtera ini kan makan di rumahnya hanya sekali sehari, gak perlu banyak-banyak nyetok kerupuk dong. Lagipula lagi kerupuk kan gorengnya harus dengan minyak banyak, gak efisien banget kalau sekali goreng hanya untuk 2-3 kali makan. Sisa minyaknya gimana?

Udahlah, beli kerupuk matang aja.

Tapi gak ada yang jual emping matang (dalam jumlah mencukupi). Adanya yang sudah diplastiki kecil-kecil untuk sekali makan. Plus, biasanya dijual di tempat yang menjual masakan jadi. Masak beli 3 bungkus emping doang dan gak beli 'dagangan utama'nya, aku kan malu kakaaaaak.

Jadi, ayo coba beli emping mentah.

Dan ternyata, gak mahal-mahal amat ya emping (mentah) itu. Inflasi apa kabar inflasi? Orang bilang inflasi bikin makanan utama yang dulu berasa murah, sekarang berasa mahal. Buat saya, emping itu deflasi kayanya. Soalnya dulu berasa mahal banget, sekarang kayaknya kok gak beda jauh ama jenis kerupuk lainnya ya? Emping juga tipis ringan gitu kan mentahnya, jadi beli 250gr bisa digoreng dalam 3 sesi buat saya, masing-masing sesi nya cukup untuk mengisi toples dan dihabiskan dalam 4-5 kali makan. Murah kan?

Minyaknya gimana?

Nyonya yang pengiritan ini menemukan, ternyata gak harus digoreng dalam minyak tergenang juga kok. Saya biasanya pakai penggorengan datar, dan paling diisi minyak 1cm aja, tapi sekali goreng hanya 4-5 pc aja. Lama dong gorengnya? Ya gapapa lah, lha wong dikit juga kok jumlah yang digorengnya.

Yuk makan emping dulu.

3 Responses so far.

  1. Kebalikan nih, kami malah gak suka sama emping..hehehe.... Tapi kami suka banget sama kerupuk, apalagi kemplang, duh itu maunya tiap hari ada di rumah. Dan bener, makan apa aja asal ada kerupuk, maka jadinya bakal enak! :D

  2. khair says:

    kalau bicara emping, aceh banyak ni jual, hehe

  3. satujam says:

    emping gak mahal kok, biasanya kawan nasik ni enak

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -