30 November 2016

Baca cerita neng Capcai yang mau berangkat ke Enggres, saya kok jadi mikir. Dimana itu ambisi milik saya sendiri? Ada beberapa orang (yang sudah berkeluarga dan memiliki anak) bilang ambisinya berada di nomor sekian setelah keluarga, ada lagi yang bilang ambisi nya masih tersimpan baik menunggu waktu terjadi, ada lagi yang bilang ambisinya telah berubah.

Saya mencari, di mana ambisi milik saya?

Mengorek memori, saya berusaha mengingat kapan terakhir kali saya bercita-cita, punya ambisi, punya tujuan. Sulit ternyata, hampir tak berhasil. Saya hanya berhasil mengingat kalau neng Erma kecil dulu pernah bercita-cita jadi pramugari. Aih...

Kenapa pramugari, karena berangkat dan pergi kerja diantar jemput, tak perlu naik angkot apalagi bis. Ya amplop, motivasi yang sungguh amat cemen. Alasan lainnya, karena tetangga saya yang pramugari itu, selalu tampak cantik ayu mempesona, bahkan ketika kami menemui di rumahnya. Yang sekarang kalau dipikir-pikir, ketemunya juga kan pas Lebaran, ya doi dandan lah ya, wajar kalau cantik. Ampun, malu bener deh saya dengan betapa cemen cara berpikir saya tempo dulu. Dari sesi berpikir cemen itu juga, saya mendengar kalau tidak berkacamata dan dan gigi bebas dari lubang, adalah dua (dari entah berapa) syarat untuk jadi pramugari. Begitu saya mengetahui gigi saya ada yang berlubang, melayang pula cita-cita bocah SD itu.

Saya tak berhasil mengingat lagi, apa ambisi hidup saya berikutnya.

Masuk SMP, ke jalur mudah memilih tempat yang memang menjadi 'rayon' dari SD saya. Demikian pula masuk SMA. Dan berhasil tanpa drama atau persiapan berlebihan. Belajar biasa-biasa saja. Mungkin persiapan masuk kampus kuning yang agak spesial. Mungkin karena sudah membaca bahwa saingannya bukan ratusan, bisa ribuan untuk merebut kursi di jurusan pilihan, saya pun masuk bimbel. Itupun tak terlalu ambisius, karena dalam placement test awal, nilainya sudah masuk perkiraan 'passing grade'. Memang ada rasa khawatir, bagaimana kalau tidak diterima, bagaimana kalau nilai yang lain lebih bagus, tapi dengan damai dan tanpa khawatir pula, saya mendapftar di kampus swasta yang jadi pilihan favorit para tetangga. Karena anak ABRI dapat diskon ahahahahahaha. Ada yang tau, kampus mana?

Ke masa kini, dengan damai di rumah selama lebih dari 2 tahun terakhir, saya juga jadi bertanya-tanya sendiri, apa itu ambisi? Di mana kamu sembunyi? Kemana kamu pergi?

- Copyright © Feel... Think... Write... - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -